Suarantt.id, Kupang-Bank Indonesia (BI) mengajak seluruh pihak untuk bersinergi dalam mempercepat pemulihan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala Perwakilan BI NTT, Agus Sustyo Widjajati, dalam acara “Sasando Dia” di Umera Kofie Kupang, menegaskan bahwa sinergi yang solid sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi NTT agar kembali tumbuh di atas 5 persen secara tahunan.
Agus menjelaskan bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi NTT pada periode 2022-2024 hanya sebesar 3,22 persen. “Artinya, masih terdapat potensi yang perlu dioptimalkan untuk mengembalikan bahkan melampaui kondisi pra-COVID,” ujarnya.
Fokus pada Optimalisasi Sektor Pertanian
Sebagai sektor dengan kontribusi besar terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja di NTT, pertanian menjadi salah satu prioritas utama BI. Namun, produktivitas sektor ini masih belum optimal dan rentan terhadap risiko iklim. Agus mencatat bahwa hanya 55 persen dari total lahan sawah di NTT yang memiliki irigasi memadai, yang menyebabkan indeks pertanaman belum maksimal.
“Bank Indonesia secara proaktif mendukung penguatan sektor pertanian NTT dengan bantuan sarana prasarana pertanian, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta digitalisasi pertanian,” tambahnya.
Hilirisasi dan Investasi di Sektor Pertanian
BI juga mendorong hilirisasi komoditas pertanian guna meningkatkan nilai tambah produk lokal. Upaya ini memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pelaku usaha, untuk menarik minat investor di NTT.
Potensi Pariwisata Sebagai Penggerak Ekonomi
Selain sektor pertanian, BI melihat pariwisata sebagai salah satu sektor yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi NTT. Penetapan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) menjadi momentum bagi pengembangan destinasi unggulan di seluruh NTT.
“Jika setiap kabupaten/kota mengembangkan satu destinasi wisata unggulan, maka NTT akan memiliki 22 destinasi yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujar Agus.
Digitalisasi Pembayaran dan Pengendalian Inflasi
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, BI juga berkomitmen memperluas penerapan sistem pembayaran digital seperti QRIS. Selain itu, upaya menjaga stabilitas harga dan memperkuat ekspor menjadi fokus utama dalam pengendalian inflasi di NTT.
Bank Indonesia berharap sinergi yang terus diperkuat ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi NTT yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan. ***





