Kejati NTT Gelar Doa Bersama Mengenang Tragedi Tenggelamnya KMP Citra Mandala Bahari

oleh -901 Dilihat
Kejati NTT Gelar Doa bersama Kenang Tragedi Pukuafu. (Foto Humas Kejati NTT)

Suarantt.id, Kupang-Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) menggelar doa bersama untuk mengenang tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Citra Mandala Bahari atau yang lebih dikenal sebagai “JM Ferry.” Tragedi yang terjadi pada 31 Januari 2006 tersebut merenggut nyawa dua insan Adhyaksa, yakni almarhum Engkus Kusdinar, SH., dan Philipus David Ay, yang tengah menjalankan tugas ke Kejaksaan Negeri Rote Ndao.

Doa bersama yang berlangsung di Kantor Kejati NTT ini dipimpin oleh Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) NTT, Ikhwan Nul Hakim, S.H., dan diikuti oleh Asisten Intelijen Kejati NTT, Bambang Dwi Murcolono, SH., MH., Asisten Tindak Pidana Umum Kejati NTT, Mohammad Ridosan, S.H., M.H., Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Ridwan Sujana Angsar, S.H., M.H., Kabag TU, para Koordinator, serta seluruh pegawai Kejati NTT.

Dalam momen penuh haru tersebut, Wakajati NTT menyampaikan bahwa doa bersama ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para almarhum, tetapi juga pengingat akan dedikasi jaksa yang gugur dalam menjalankan tugas.

Tragedi yang Tak Terlupakan

Tepat 19 tahun yang lalu, KMP Citra Mandala Bahari yang berlayar dari Pelabuhan Bolok Kupang menuju Pelabuhan Pantai Baru, Rote Ndao, mengalami musibah di Selat Pukuafu perairan yang dikenal berbahaya karena arus kuat dan palung dalam yang mengancam keselamatan pelayaran.

Kapal dengan bobot 489 GT tersebut dinakhodai oleh Marianus Koten dan membawa sekitar 160 penumpang, meskipun banyak pihak meragukan jumlah tersebut. Di antara penumpang, terdapat tiga jaksa yang bertugas ke Rote Ndao, yaitu Soleman Bolla, Engkus Kusdinar, dan Philipus David Ay.

Menurut kesaksian Wilmince Mangdalena Herlinda Tony, istri dari Soleman Bolla, suaminya selamat setelah berhasil keluar dari jendela kapal dan bertahan selama dua jam di laut dengan bantuan potongan kayu. Namun, nasib tragis menimpa Engkus Kusdinar yang ditemukan meninggal dunia, sementara jasad Philipus David Ay hingga kini belum ditemukan.

BACA JUGA:  Muhammad Ahsan Resmi Jabat Asintel Kejati NTT

Kenangan yang Abadi

Kisah pilu turut diungkapkan oleh Marietje Margaretha Ay-Ndoen, ibu dari Philipus David Ay. Ia mengenang putranya yang merupakan anak bungsu dan bercita-cita mengikuti jejaknya sebagai jaksa. “Deddy mungkin panik sehingga masuk ke dalam mobil dinas yang akan dibawa ke Kejari Rote. Ia tenggelam bersama mobil itu, dan hingga kini jasadnya belum ditemukan,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Engkus Kusdinar bersama Soleman Bolla saat itu turut membawa seorang tahanan bernama Pangloli’. Tahanan tersebut dikenang sebagai sosok yang berjiwa mulia karena membantu menyelamatkan banyak penumpang dengan membagikan pelampung di tengah kepanikan.

Menghormati Dedikasi dan Pengabdian

Doa bersama ini menjadi pengingat bagi seluruh aparat penegak hukum akan beratnya tugas yang diemban, terutama di wilayah terluar Indonesia. Kejati NTT berharap momen ini dapat menginspirasi insan Adhyaksa untuk terus mengabdi dengan penuh dedikasi dan keberanian.

“Semoga arwah para almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan pengabdian mereka senantiasa menjadi teladan bagi kita semua,” tutup Wakajati NTT dalam doa penuh harapan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.