Undana Kupang Kini Punya 79 Profesor, Gubernur NTT Dorong Kontribusi Nyata untuk Daerah

oleh -266 Dilihat
Gubernur NTT Melki Laka Lena Hadiri Pengukuhan Tiga Guru Besar Undana Kupang pada Rabu, 8 April 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencatatkan capaian akademik penting dengan mengukuhkan tiga guru besar dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa yang berlangsung di Auditorium Undana, Rabu (8/4/2026).

Dengan penambahan tersebut, jumlah guru besar Undana kini mencapai 79 orang sejak berdiri pada 1 September 1962.
Tiga guru besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T dengan kepakaran Arsitektur dan Perilaku pada Fakultas Sains dan Teknik, Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si dengan kepakaran Reformasi Kebijakan dalam Pembangunan Kesehatan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Prof. Zakaris Seba Ngara, S.Si., M.Si., Ph.D dengan kepakaran Fisika Material pada Fakultas Sains dan Teknik.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi atas pencapaian akademik tertinggi yang diraih para guru besar. Ia menegaskan bahwa kehadiran para profesor ini merupakan aset intelektual penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di NTT.

“Kehadiran Universitas Nusa Cendana memegang peran penting sebagai think tank di kawasan Indonesia Timur. Kepakaran para guru besar ini tentu menjadi fondasi intelektual yang dibutuhkan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan,” ujar Gubernur.

Menurutnya, NTT memiliki kekayaan potensi yang besar, namun juga dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan yang kompleks, mulai dari sektor kesehatan, infrastruktur, hingga pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan harus berbasis ilmu pengetahuan serta mengedepankan aspek humanis.

Gubernur Melki juga menekankan pentingnya kontribusi nyata dari kalangan akademisi, khususnya para guru besar, dalam menghasilkan riset yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Pemerintah daerah sangat membutuhkan dukungan pemikiran dan hasil riset akademik untuk menjawab persoalan pembangunan secara tepat dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dia juga mendorong terjalinnya sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, agar tantangan geografis dan sosial-ekonomi di NTT dapat diubah menjadi peluang dan keunggulan kompetitif.

“Pembangunan NTT membutuhkan kecerdasan kolektif. Kolaborasi antara akademisi dan pemerintah menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang tepat bagi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor Undana, Prof. Dr. Jefri S. Bale menyampaikan bahwa pengukuhan tiga guru besar ini menunjukkan peningkatan kapasitas kelembagaan Undana dalam melahirkan kepemimpinan intelektual.

Ia juga menyoroti pentingnya peran guru besar di tengah perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“AI bisa memberikan teori, tetapi tidak memiliki pengalaman empiris. Guru besar hadir untuk memberikan konteks, makna, serta menghubungkan ilmu dengan realitas di lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, esensi seorang guru besar terletak pada kemampuan Humanistic Intelligence (H.I), yakni kecerdasan yang mencakup nurani, empati, dan kepekaan sosial yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Dalam kesempatan tersebut, ketiga guru besar juga menyampaikan orasi ilmiah sesuai bidang kepakarannya, mulai dari arsitektur dan perilaku, reformasi kebijakan publik di bidang kesehatan, hingga pengembangan material berbasis karbon nanodots.

Pemprov NTT berharap kehadiran para guru besar ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta mendorong percepatan pembangunan daerah yang lebih terarah dan berkelanjutan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.