Akademisi NTT Nilai PDI Perjuangan Tetap Jadi Harapan Rakyat di Tengah Arus Liberalisasi Politik

oleh -579 Dilihat
Jelang Konferda VI, DPD PDI Perjuangan NTT Gelar FGD dengan Melibatkan Akademisi dan Seluruh Elemen Masyarakat. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Sejumlah akademisi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) masih menjadi partai politik yang memegang harapan rakyat di tengah arus liberalisasi politik nasional yang kian kuat. Penilaian tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar DPD PDI Perjuangan NTT menjelang pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) VI partai tersebut.

FGD berlangsung di Sekretariat DPD PDI Perjuangan NTT, Jalan Piet A. Tallo, Kota Kupang, pada Sabtu (1/11/2025), dengan menghadirkan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, wartawan, aktivis lingkungan, kelompok disabilitas, organisasi perempuan, hingga perwakilan pemuda dari Kelompok Cipayung.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Nelson O. Matara, S.Ip., M.Hum., dan dimoderatori oleh Emanuel Kolfidus, yang juga Ketua Panitia Konferda VI. Hadir pula jajaran pengurus partai, termasuk Ketua DPD Ir. Emelia J. Nomleni, Sekretaris Yunus H. Takandewa, serta Bendahara Patris Laliwolo.

Dari kalangan akademisi hadir sejumlah narasumber, antara lain Prof. Dr. David BW Pandie, MS dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Rudi Rohi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Prof. Zainur Wula dari Universitas Kristen Artha Wacana (Unkris) Kupang, Ir. Zet Malelak, M.Si, serta Esthon Niron, M.P. dari Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang.

Dalam paparannya, Prof. David Pandie menegaskan bahwa PDI Perjuangan masih menjadi kekayaan politik nasional yang memiliki tempat khusus di hati rakyat.

“Bagi saya, PDI Perjuangan merupakan kekayaan politik nasional dan masih menjadi harapan masyarakat,” ujarnya.

Guru Besar Administrasi Pembangunan dan Reformasi Birokrasi itu juga menekankan pentingnya kemampuan adaptasi politik dan transformasi partai, terutama dalam mendekatkan diri dengan generasi muda, khususnya Gen Z, yang kini sangat berpengaruh dalam dinamika politik global.

Sementara itu, Prof. Zainur Wula menilai PDI Perjuangan harus tampil sebagai partai yang konsisten memperjuangkan kedaulatan rakyat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kedaulatan pangan.

“PDI Perjuangan perlu terus menampilkan wajah sebagai partai wong cilik yang berpihak pada rakyat kecil,” tandasnya.

Dr. Rudi Rohi menyoroti pentingnya penguatan identitas partai (party ID) sebagai branding ideologis yang membedakan PDI Perjuangan dari partai lain. Ia menekankan perlunya kegiatan-kegiatan intelektual di dalam partai sebagai bagian dari budaya politik yang sehat.

“Partai harus bergerak dari firasat menuju filsafat, membangun metodologi kerja politik yang bisa diukur dan diaudit,” tegasnya.

Sementara Ir. Zet Malelak menekankan pentingnya partai menyatu dengan rakyat agar kebijakan pembangunan benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat. Ia menambahkan, “Aksiologi politik baru bisa bermakna jika partai tahu siapa rakyatnya dan apa kebutuhan mereka.”

Esthon Niron, M.P. menyoroti tiga fungsi utama partai politik — rekrutmen, kaderisasi, dan kandidasi — yang menurutnya perlu dijalankan secara konsisten oleh PDI Perjuangan agar tidak terjebak pada orientasi elektoral semata.

“Sering kali kandidasi lebih dipengaruhi kepentingan elektoral ketimbang melahirkan kader ideologis dan militan,” ujarnya mengingatkan.

FGD ini menjadi bagian dari persiapan menuju Konferda VI DPD PDI Perjuangan NTT yang akan digelar awal November 2025. Agenda konferda antara lain mencakup pemilihan pengurus, penetapan program kerja, dan perumusan sikap politik partai untuk lima tahun mendatang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.