Tekan Defisit Rp51 Triliun, Gubernur NTT Dorong Produk Lokal Go Regional

oleh -587 Dilihat
Gubernur NTT Didampingi Bupati Belu, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan NTT di Acara Peluncuran NTT Mart Berbasis One School One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu pada Senin 30 Maret 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Atambua-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mempercepat penguatan ekonomi lokal melalui perluasan akses pasar bagi produk daerah. Salah satu langkah konkret ditunjukkan dengan peluncuran NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu, Senin (30/3/2026).

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa persoalan utama yang dihadapi pelaku UMKM dan industri kecil bukan terletak pada produksi, melainkan pada akses pasar. Karena itu, kehadiran NTT Mart diharapkan menjadi solusi nyata untuk menjawab tantangan tersebut.

“Masalah terbesar UMKM kita bukan produksi, tapi pasar. Banyak yang bisa buat produk, tapi tidak punya tempat jual. NTT Mart ini kita siapkan sebagai ruang bersama agar produk lokal punya pasar yang jelas,” ujar Melki.

Ia mengungkapkan, kondisi perdagangan NTT saat ini masih mengalami ketimpangan serius. Nilai barang yang masuk dari luar daerah jauh lebih besar dibandingkan yang keluar, dengan selisih mencapai sekitar Rp51 triliun setiap tahun.

“Artinya uang kita lebih banyak keluar daripada berputar di dalam daerah. Ini yang harus kita ubah dengan mendorong produksi lokal dan mengurangi ketergantungan dari luar,” tegasnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemprov NTT mengembangkan ekosistem ekonomi berbasis tiga pilar utama, yakni One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP). Melalui pendekatan ini, setiap desa, sekolah, dan komunitas didorong memiliki produk unggulan masing-masing.

“Kalau setiap desa satu produk dan setiap sekolah satu produk, kita akan punya ribuan produk lokal. Ditambah komunitas, gereja, dan kelompok hobi, ini akan menjadi kekuatan ekonomi baru,” jelas Melki.

Dia menambahkan, NTT Mart akan berfungsi sebagai pusat distribusi atau “rumah besar” bagi seluruh produk lokal, sementara desa, sekolah, dan komunitas menjadi basis produksi.

“Produk dari berbagai tempat kita kumpulkan, kita kemas dengan baik, lalu kita jual. Ini bukan sekadar jual beli, tapi membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Gubernur juga menyoroti posisi strategis Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan perdagangan, termasuk dengan Timor Leste. Karena itu, penguatan ekonomi lokal di wilayah tersebut dinilai sangat penting.

Untuk memastikan pasar tetap bergerak, pemerintah juga mendorong peran aktif aparatur sipil negara (ASN) sebagai konsumen utama produk lokal.

“Kalau ASN sisihkan minimal Rp100 ribu per bulan untuk belanja di NTT Mart, itu tidak membuat kita miskin, tapi justru menggerakkan ekonomi. Jika dilakukan bersama, perputaran uang bisa mencapai miliaran rupiah,” ujarnya.

Selain itu, Melki juga menginstruksikan agar produk lokal menjadi pilihan utama, termasuk untuk oleh-oleh dalam perjalanan dinas. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi fasilitas produksi di sekolah, khususnya SMK, agar dapat dimanfaatkan secara rutin.

“Seminggu sekali harus ada aktivitas produksi. Ini bagian dari membangun budaya kewirausahaan sejak dini,” tegasnya.

Di tengah tantangan ekonomi global dan ancaman kekeringan akibat El Nino yang diperkirakan mulai terjadi dalam beberapa bulan ke depan, penguatan ekonomi lokal dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga daya tahan masyarakat.

Pemerintah optimistis, dengan integrasi produksi dari desa, sekolah, dan komunitas serta dukungan pasar melalui NTT Mart, perputaran ekonomi daerah akan meningkat signifikan dan ketergantungan terhadap produk luar dapat ditekan secara bertahap.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Ia memastikan pemerintah daerah akan memperluas jaringan NTT Mart, termasuk di pusat layanan publik, serta mendorong pemasaran digital agar produk lokal bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

BACA JUGA:  Upacara Otonomi Daerah ke-30 di NTT, Wagub Ajak Bangun Daerah Berbasis Potensi Lokal

“Kita ingin produk dari masyarakat dan siswa bisa dipasarkan tidak hanya di NTT, tetapi juga secara nasional hingga internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan bahwa program OSOP merupakan bagian dari transformasi pendidikan untuk membekali siswa dengan keterampilan kewirausahaan.

“Ini bukan sekadar program tambahan, tetapi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda menghadapi dunia kerja,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.