Dari Pekarangan Hingga Pasar Tani, Pemprov NTT Bangun Ketahanan Pangan Berkelanjutan

oleh -208 Dilihat
Gubernur Melki Didampingi Wagub Johni Asadoma dan Bupati Kupang Yoseph Lede Tanam Padi secara Serentak di Kabupaten Kupang pada Senin, 16 Pebruari 2026. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena menegaskan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu pilar utama dalam membangun ketahanan dan kedaulatan pangan daerah.

Pemerintah Provinsi NTT saat ini melaksanakan penguatan rantai pasok pangan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir sebagai bagian dari strategi pembangunan pertanian berkelanjutan.

Menurut Gubernur Melki, pertanian tidak lagi dipandang semata sebagai aktivitas produksi, melainkan sebagai fondasi penting dalam menjaga stabilitas pangan masyarakat. Hal tersebut tercermin dari kinerja sektor pertanian pada tahun 2025 yang menunjukkan penguatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Produktivitas padi mengalami peningkatan dari 4,19 ton per hektare pada tahun 2024 menjadi 4,56 ton per hektare pada tahun 2025 atau tumbuh sekitar 8,83 persen. Sementara produktivitas jagung juga mengalami kenaikan dari 2,68 ton per hektare menjadi 2,69 ton per hektare.

Peningkatan produktivitas tersebut berdampak langsung pada lonjakan produksi. Produksi padi pada tahun 2025 tercatat mencapai 968.324 ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat sebesar 260.532 ton atau sekitar 36,81 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 707.793 ton GKG. Produksi beras juga mengalami peningkatan dari 414.576 ton pada tahun 2024 menjadi 567.178 ton pada tahun 2025.

Dari sisi perluasan areal tanam, total luas tanam padi pada musim tanam Oktober 2024 hingga September 2025 mencapai 252.929 hektare, meningkat 47.441 hektare atau 23,09 persen dibandingkan periode sebelumnya yang seluas 205.488 hektare.

Peningkatan tersebut didukung melalui optimalisasi pemanfaatan lahan, di antaranya penanaman padi gogo di lahan kering seluas 1.793 hektare, tumpang sisip padi gogo seluas 8.744 hektare, optimalisasi lahan sawah seluas 28.723 hektare, serta pencetakan sawah baru seluas 399,6 hektare. Strategi intensifikasi dan ekstensifikasi ini dijalankan secara simultan guna mendorong peningkatan produksi pertanian daerah.

Selain itu, di sisi hulu, pemerintah juga memperkuat peran penyuluh pertanian lapangan dengan dukungan operasional yang lebih memadai agar pendampingan kepada petani dalam menerapkan praktik budidaya produktif dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

Sementara pada sisi hilir, kebijakan difokuskan pada peningkatan akses pasar bagi petani melalui pendekatan pasar langsung seperti Pasar Tani dan pameran pangan lokal. Langkah ini dilakukan guna memotong rantai distribusi yang panjang serta meningkatkan posisi tawar petani di pasar.

Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi NTT juga menjalankan Program Pekarangan Pangan Lestari sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan rumah tangga, khususnya bagi kelompok rentan. Program ini diharapkan mampu memastikan ketersediaan pangan sehat yang dapat diakses secara mandiri oleh masyarakat.

Integrasi kebijakan dari hulu hingga hilir tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Produksi pangan strategis tahun 2025, khususnya padi, beras, dan jagung mengalami peningkatan yang signifikan.

Atas capaian tersebut, Pemerintah Provinsi NTT berhasil meraih Penghargaan Swasembada Pangan Nasional (PIN) Tahun 2025 dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penghargaan ini menjadi fondasi awal menuju kedaulatan pangan daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.