Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menerima kunjungan Penulis Buku Perjanjian Lisbon Tahun 1859 dan Akibatnya Bagi Pulau Timor, Flores, Solor dan Sekitarnya (1847–2024), Fransisco Soarez Pati, bersama asistennya, Tino Adjo, di Rumah Jabatan Gubernur NTT pada Rabu (11/6/2025) malam.
Dalam pertemuan yang berlangsung akrab, Fransisco Soarez—yang juga seorang pengacara dan fasih berbahasa Portugis—memaparkan secara singkat isi buku karyanya yang mengangkat dokumen sejarah penting berjudul Tratado de Demarcação e Troca de Algumas Possessões Portuguesas e Neerlandezas No Archipelago de Solor e Timor. Dokumen ini merupakan hasil perjanjian antara Portugal dan Belanda yang ditandatangani pada 20 April 1859 di Lisbon, Portugal, dan mencerminkan perubahan besar dalam status kepemilikan sejumlah wilayah di Kepulauan Nusa Tenggara.
“Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Buku ini membahas dokumen bersejarah yang dulu diterbitkan oleh Imprensa Nacional Portugal tahun 1861, dan sangat sedikit diketahui masyarakat kita, baik di Indonesia maupun di Timor Leste,” ujar Fransisco, yang akrab disapa Sisco.
Menurutnya, Perjanjian Lisbon 1859 merupakan tonggak penting yang mengakhiri klaim Portugis atas pulau-pulau seperti Flores, Solor, Adonara, dan sekitarnya, yang kemudian jatuh ke tangan Belanda. Sebagai imbalannya, Belanda menyerahkan wilayah Maubara dan melepaskan klaim atas Pulau Atauro kepada Portugis. Dampak dari perjanjian ini, kata Sisco, masih terasa hingga kini dalam bentuk pembentukan Provinsi NTT di Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste sebagai negara berdaulat.
“Perjanjian ini adalah babak awal dari perubahan politik dan geografis besar di kawasan ini. Sebuah warisan sejarah yang tidak boleh dilupakan,” tambahnya.
Sisco menjelaskan bahwa bukunya dibagi dalam sembilan bagian yang menyajikan secara kronologis sejarah kolonial Portugis dan Belanda di kawasan NTT dan Timor Leste. Di dalamnya tercakup topik-topik mulai dari pendahuluan perjanjian, administrasi kolonial Belanda dan Portugis, pendudukan Jepang, hingga dekolonisasi Timor Portugis dan integrasi Timor Timur ke Indonesia serta kemerdekaan Timor Leste.
Ia menegaskan bahwa buku ini dipersembahkan untuk generasi muda NTT sebagai sumber literasi sejarah lokal. “Saya ingin generasi muda tahu akar sejarah daerahnya. Ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga untuk membentuk masa depan,” katanya.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyambut baik hadirnya buku tersebut. Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas karya literasi sejarah ini, yang menurutnya sangat penting bagi pemahaman identitas dan sejarah masyarakat NTT.
“Buku sejarah seperti ini patut kita apresiasi. Ini akan memperkaya literasi generasi muda kita. Saya berterima kasih kepada penulis atas dedikasi dan kerja kerasnya,” ujar Gubernur.
Melki juga mengusulkan agar buku tersebut dibedah bersama para akademisi dan ahli sejarah NTT guna mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif. Ia berharap diskusi publik dapat memperkuat kualitas isi buku serta menumbuhkan semangat literasi sejarah di kalangan masyarakat.
“Saya ingin kita atur waktunya untuk bedah buku ini. Kita undang para sejarawan, cendekiawan, dan budayawan. Ini penting agar sejarah kita tidak hanya terdengar, tapi juga dimengerti dan diwarisi,” tegas Gubernur.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki juga memuji penguasaan bahasa asing oleh Sisco yang meliputi Portugis, Spanyol, dan Inggris. Ia berharap hal tersebut bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda NTT untuk memperluas wawasan melalui kemampuan literasi lintas bahasa.
Pertemuan tersebut menjadi momen berharga yang menandai sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat intelektual dalam menggali, merawat, dan menyebarluaskan sejarah daerah sebagai bagian penting dari jati diri bangsa. ***





