Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, meninjau Situs Gua Jepang yang terletak di Bukit Fatusuba, Dusun Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang pada Kamis (22/1/2026).
Peninjauan ini dilakukan sebagai langkah awal penataan dan pelestarian situs bersejarah peninggalan Perang Dunia II tersebut agar dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah di NTT.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT Ambrosius Kodo, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT Mira Kale, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVI NTT Haris Budiharto.
Gubernur Melki menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk menindaklanjuti arahan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, terkait penataan dan pelestarian Situs Gua Jepang Fatusuba. Sebagai Gubernur sekaligus wakil Pemerintah Pusat di daerah, ia menyatakan kesiapan seluruh pemangku kepentingan di NTT untuk terlibat secara bertahap dalam pengembangan kawasan tersebut.
“Setelah mendengar arahan Bapak Menteri, saya bersama Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan dan seluruh pihak terkait akan membantu secara bertahap untuk merapikan dan menata situs ini. Situs Gua Jepang ini menunjukkan bahwa NTT, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan, memiliki posisi yang strategis dalam peta dunia,” ujar Gubernur Melki.
Menurutnya, keberadaan Situs Gua Jepang harus dimaknai sebagai bagian penting dari sejarah global, khususnya pada masa Perang Dunia II. Pemahaman terhadap sejarah tersebut dinilai penting sebagai dasar dalam memaknai posisi strategis NTT dalam konteks pembangunan ke depan.
“Dengan belajar sejarah, kita bisa memahami mengapa situs ini dibangun dan apa peran strategis NTT pada masa itu. Harapannya, pemahaman ini menjadi bekal bagi kita dalam menatap masa depan,” katanya.
Lebih lanjut, Gubernur Melki menyampaikan bahwa Pemprov NTT bersama para pemangku kepentingan telah sepakat untuk mengembangkan Situs Gua Jepang Fatusuba sebagai destinasi wisata sejarah. Penataan kawasan akan mencakup perbaikan akses jalan menuju lokasi, penataan lingkungan situs, serta penguatan narasi sejarah bagi pengunjung.
“Kita ingin ketika orang datang ke Kupang dan bertanya mau wisata ke mana, salah satu jawabannya adalah wisata sejarah di Gua Jepang ini,” ujarnya.
Selain sebagai destinasi wisata, Gubernur Melki juga mendorong pemanfaatan situs tersebut sebagai sarana edukasi bagi pelajar. Sekolah-sekolah diharapkan dapat menjadikan Situs Gua Jepang sebagai tujuan kunjungan belajar untuk memperkuat pemahaman sejarah lokal dan nasional bagi generasi muda.
“Nantinya setelah kita tata dengan baik, anak-anak sekolah perlu didorong untuk datang dan belajar langsung di sini. Sejarah NTT sangat penting dan strategis, dan cagar budaya seperti ini harus kita optimalkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT, Haris Budiharto, menjelaskan bahwa Situs Gua Jepang di Bukit Fatusuba merupakan peninggalan sejarah berupa sisa-sisa sistem pertahanan Jepang pada masa Perang Dunia II. Berdasarkan hasil kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya di Bali bersama para arkeolog, teridentifikasi sekitar 15 gua dengan kurang lebih 123 titik di wilayah Dusun Bonen.
“Keseluruhan titik ini merupakan bagian dari sistem pertahanan pada masa pendudukan Jepang. Sesuai amanat Menteri Kebudayaan, kami bertugas melakukan pelestarian sekaligus pemanfaatan situs ini,” jelas Haris.
Ia berharap adanya dukungan dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan di NTT agar pengembangan Situs Gua Jepang Fatusuba dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi NTT, Mira Kale, menyampaikan bahwa pengembangan situs sejarah seperti Gua Jepang berpotensi mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.
“Jika didukung infrastruktur yang memadai dan dikelola dengan baik sebagai objek wisata sejarah, situs ini akan menarik lebih banyak pengunjung dan berdampak langsung pada pergerakan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Melalui penataan dan pengembangan Situs Gua Jepang Fatusuba, Pemprov NTT berharap dapat mengangkat nilai sejarah daerah sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya di Nusa Tenggara Timur. ***





