Pemprov NTT Gaungkan Jam Belajar Masyarakat, 1,5 Jam Jadi Penentu Masa Depan Anak

oleh -107 Dilihat
Kepala Biro Hukum Setda Provinsi NTT, Odermaks Sombu, PLT Kepala Biro Adpim Setda NTT, Jusuf Lery Rupidara dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo Beri Keterangan Pers pada Jumat, 29 Mei 2026. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menggencarkan sosialisasi Peraturan Gubernur (Pergub) NTT Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat sebagai upaya memperkuat peran keluarga dalam pendidikan anak.

Sosialisasi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, didampingi Plt. Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT, Jusuf Lery Rupidara, serta Kepala Biro Hukum Setda Provinsi NTT, Odermaks Sombu kepada wartawan di Lantai I Kantor Gubernur NTT pada Jumat, 29 Mei 2026.

Ambrosius Kodo menegaskan bahwa gerakan ini bertujuan membangun kembali budaya belajar di lingkungan keluarga dan masyarakat, dengan menempatkan orang tua sebagai pendamping utama anak di rumah.

“Anak-anak hanya berada sekitar delapan jam di sekolah, sementara 16 jam lainnya di rumah. Karena itu, orang tua menjadi guru utama yang memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak,” ujarnya.

Melalui Pergub tersebut, anak-anak didorong untuk memanfaatkan waktu belajar di rumah selama 1,5 jam, yakni pukul 18.00 hingga 19.30 WITA. Dalam rentang waktu itu, orang tua diharapkan aktif mendampingi anak, mulai dari membangun komunikasi, memantau kegiatan belajar, hingga membantu ketika anak mengalami kesulitan.

Menurut Ambrosius, kegiatan belajar di rumah dapat diawali dengan hal sederhana seperti berdoa bersama, menanyakan aktivitas anak di sekolah, serta menciptakan suasana yang nyaman agar anak terbuka dalam proses belajar.

“Pendampingan orang tua sangat penting agar anak tidak terjerumus pada pergaulan yang tidak semestinya. Ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan gerakan ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga media.

BACA JUGA:  Fraksi Amanat Sejahtera DPRD NTT Desak Pemerintah Percepat Pembangunan Infrastruktur dan Pemerataan Akses di Daerah Terpencil

“Ini gerakan bersama. Kita butuh dukungan semua stakeholder untuk memastikan implementasinya berjalan baik dan memberikan dampak nyata bagi kualitas pendidikan anak-anak kita,” tegasnya.

Gerakan Jam Belajar Masyarakat juga diharapkan mampu mendukung visi pembangunan pendidikan di NTT, terutama dalam penguatan karakter siswa, peningkatan kemampuan akademik, serta pengembangan jiwa kewirausahaan sejak dini.

Dengan keterlibatan aktif keluarga sebagai lingkungan utama, pemerintah optimistis anak-anak NTT dapat tumbuh dalam suasana yang aman, nyaman, dan kondusif untuk belajar, sehingga mampu menyiapkan masa depan yang lebih baik. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.