AI Tak Bisa Dibiarkan Liar! Pemkot Kupang Gandeng Gereja Jaga Moral di Era Digital

oleh -211 Dilihat
Pemerintah Kota Kupang Gandeng Gereja Jaga Nilai Moral di Tengah Perkembangan Kecerdasan Buatan atau AI. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Kota Kupang menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah dan pengawasan nilai. Untuk itu, kolaborasi antara pemerintah dan gereja dinilai menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai moral masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, saat mewakili Wali Kota Kupang dalam pembukaan Sinode Distrik XVII Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Indonesia Bagian Timur Tahun 2026 di Hotel Kristal Kupang, Selasa (4/8/26).

Dalam sambutannya, Sekda menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, gereja memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam memastikan bahwa kemajuan AI tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai iman, moral, dan kemanusiaan.

“Teknologi berkembang sangat cepat. Tantangannya bukan lagi bagaimana menghindarinya, tetapi bagaimana menggunakannya secara bijaksana. AI tidak boleh dibiarkan liar tanpa arah. Di sinilah peran gereja menjadi sangat penting untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi dinamika zaman. Sinergi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen menjadi hal yang mutlak untuk memastikan pembangunan tetap berpihak pada manusia.

“Pemerintah membutuhkan kolaborasi. Gereja, tokoh agama, dan masyarakat harus menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan era digital ini,” lanjutnya.

Sekda turut menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Kupang sebagai tuan rumah kegiatan sinode. Ia menyebut momentum ini sebagai kesempatan untuk memperkuat semangat Kota Kupang sebagai “Kota Kasih” yang terbuka, ramah, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan.

Sementara itu, Praeses HKBP Distrik XVII Indonesia Bagian Timur, Pdt. Christian Sitompul menegaskan bahwa gereja tidak dapat menutup mata terhadap perkembangan teknologi, termasuk AI. Menurutnya, pendekatan yang tepat adalah memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung pelayanan tanpa mengabaikan nilai iman.

BACA JUGA:  Gubernur Melki: Masalah Warga NTT di Bali Diselesaikan Lewat Jalur Pemerintahan, Budaya, dan Paguyuban

“Kita tidak mungkin menolak AI. Yang harus kita lakukan adalah menggunakannya secara bijak untuk mendukung pelayanan, memperluas pengetahuan, dan membawa manfaat bagi jemaat serta masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Sinode Distrik XVII merupakan agenda tahunan yang tidak hanya membahas program pelayanan, tetapi juga merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan zaman. Salah satu fokus utama tahun ini adalah transformasi pelayanan gereja di era digital.

Ketua Panitia Lokal, Sintua Mahadin Sibarani, juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang, pihak hotel, panitia, dan seluruh peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap sinode ini mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang berdampak nyata bagi pelayanan gereja di Indonesia Bagian Timur.

Sinode Distrik XVII HKBP Indonesia Bagian Timur Tahun 2026 dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari dengan agenda sidang, seminar tematik, penyusunan program kerja, serta perumusan rekomendasi strategis.

Melalui forum ini, diharapkan lahir sinergi kuat antara gereja dan pemerintah dalam menghadapi era digital, sehingga kemajuan teknologi seperti AI tidak hanya membawa perubahan, tetapi juga tetap berakar pada nilai moral dan kemanusiaan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.