Angkatan Kerja NTT Tumbuh, Pertanian Masih Jadi Nafas Ekonomi Rakyat

oleh -365 Dilihat
Kepala BPS NTT, Matamira Kale. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Di hamparan ladang kering yang menunggu hujan, di pesisir yang bersahabat dengan angin dan ombak, denyut kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berputar pada alam.

Tahun 2026 membawa kabar baik: jumlah angkatan kerja meningkat. Namun di balik angka-angka itu, satu hal tetap tak berubah pertanian masih menjadi nafas utama ekonomi rakyat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Matamira Kale, mengungkapkan bahwa berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, jumlah angkatan kerja di NTT mencapai 3,18 juta orang. Angka ini bertambah sekitar 100 ribu orang dibandingkan Februari 2025.

Peningkatan ini menunjukkan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif mencari dan memiliki pekerjaan.

Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami kenaikan menjadi 76,94 persen, atau naik 1,13 persen poin dari tahun sebelumnya. Ini menjadi sinyal positif bahwa keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi semakin tinggi.

Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 3,08 juta orang tercatat bekerja pada Februari 2026. Jumlah ini juga meningkat sekitar 100 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kondisi geografis NTT yang tidak selalu mudah, angka ini mencerminkan ketangguhan masyarakat dalam mempertahankan penghidupan.

Namun, jika menengok lebih dalam pada sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja, wajah lama NTT masih tampak jelas. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap mendominasi dengan menyerap 1,57 juta tenaga kerja atau sekitar 51,13 persen dari total penduduk bekerja.

Dominasi ini bukan sekadar statistik. Ia adalah potret keseharian masyarakat petani yang mengolah lahan kering, nelayan yang melaut sejak dini hari, hingga warga desa yang menggantungkan hidup pada hasil alam. Sektor ini menjadi penopang utama, sekaligus cermin dari struktur ekonomi daerah yang masih berbasis sumber daya alam.

BACA JUGA:  Gubernur Melki Tekankan Kedisiplinan ASN, Soroti Kasus HIV/AIDS dan Pengelolaan PAD

Peningkatan jumlah tenaga kerja dan partisipasi masyarakat dalam dunia kerja menjadi harapan baru bagi pertumbuhan ekonomi NTT. Namun, ketergantungan yang besar pada sektor pertanian juga menjadi tantangan tersendiri. Diperlukan upaya berkelanjutan untuk mendorong diversifikasi lapangan kerja agar ekonomi daerah semakin kuat dan tidak rentan terhadap perubahan musim maupun kondisi alam.

Di tengah geliat pertumbuhan itu, satu hal tetap pasti: selama ladang masih digarap dan laut masih dilayari, pertanian akan terus menjadi nafas ekonomi rakyat NTT—menghidupi, menguatkan, dan menjaga harapan di tanah Flobamora. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.