Bangkai Kapal Dibongkar, Sisa Minyak Mengotori Karang! KSOP Kupang Kerahkan Konsultan Inggris

oleh -213 Dilihat
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang, Simon B. Baon. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Proses pengangkatan dan evakuasi bangkai kapal MV Kuala Mas di perairan Bolok, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tenggelam di perairan Kupang sejak Desember 2024 terus dilakukan. Namun, pekerjaan tersebut sempat menyisakan persoalan lingkungan setelah ditemukan sisa minyak yang menempel di sejumlah karang, batu dan sampah di kawasan pantai.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang, Simon B. Baon, mengatakan pihaknya langsung mengambil langkah penanganan dengan melibatkan konsultan independen dari Inggris yang memiliki keahlian dalam penanganan pencemaran minyak.

Menurut Simon, dari total delapan titik yang terdampak aktivitas pengangkatan kerangka kapal, tiga titik saat ini sudah dinyatakan clear and clean. Sementara lima titik lainnya masih dalam proses pembersihan.

“Dari delapan lokasi terdampak, tiga lokasi sudah clear and clean. Tinggal lima yang sementara mereka bersihkan sisa-sisa minyak yang ada di karang, batu karang dan sampah-sampah,” kata Simon kepada wartawan pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Ia menegaskan, berdasarkan pemeriksaan visual dan peninjauan langsung konsultan, tidak ditemukan minyak yang berada di dalam air laut. Sisa minyak yang ditemukan merupakan material minyak yang sebelumnya tidak seluruhnya terangkat saat proses pekerjaan.

Simon menjelaskan, minyak tersebut memiliki berat jenis lebih ringan dibandingkan air sehingga tidak turun ke dasar laut. Karena itu, material minyak lebih banyak ditemukan menempel pada permukaan karang, batu maupun sampah di sekitar pantai.

“Kalau di air laut, dari pemeriksaan secara visual maupun turun langsung ke lokasi oleh konsultan dari Inggris, dia sudah menyatakan bahwa terhadap air laut tidak ada dampak,” jelasnya.

Meski demikian, KSOP tetap tidak ingin mengambil risiko. Penanganan pencemaran dilakukan secara serius dengan melibatkan konsultan independen bersama PT Nusalindo sebagai pelaksana kegiatan serta masyarakat di wilayah terdampak.

BACA JUGA:  Umat Muslim Diajak Terus Pelihara Toleransi dan Semangat Gotong Royong di Hari Raya Idul Fitri 1446 H

Bahkan, kegiatan pemotongan kerangka kapal sempat dihentikan sementara oleh KSOP untuk memastikan proses pembersihan sisa minyak dilakukan terlebih dahulu.

“Kami selalu pressure ke perusahaan untuk tetap memperhatikan masalah lingkungan karena ini paling penting,” tegas Simon.

Untuk mencegah kemungkinan minyak kembali menyebar selama proses pemotongan kerangka kapal berlangsung, sejumlah sarana pengendalian pencemaran juga telah dipasang di sekitar lokasi pekerjaan.

Oil boom dipasang mengelilingi area pekerjaan dengan radius sekitar satu kilometer. Selain itu, disiapkan pula peralatan penyerap minyak serta perlengkapan lain untuk mengantisipasi apabila masih terdapat sisa minyak yang keluar saat proses pemotongan dan pengangkatan kerangka.

“Setiap kali pemotongan, oil boom sudah kita pasang. Ini untuk mengantisipasi jangan sampai masih ada minyak yang keluar di lokasi pekerjaan,” ujarnya.

Simon juga memastikan bahwa keberadaan sisa minyak tersebut tidak berdampak langsung terhadap budidaya rumput laut masyarakat. Menurutnya, material yang ditemukan hanya mengenai tali-temali bagian atas dan tidak sampai mengenai rumput laut yang berada di bawah.

Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Kementerian Lingkungan Hidup telah mengambil sampel air laut untuk diperiksa di laboratorium di Jakarta. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan kondisi lingkungan laut secara ilmiah.

Terkait tanggung jawab atas pencemaran, Simon menegaskan bahwa pihak yang menjadi pelaku pencemaran wajib bertanggung jawab sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ia menyebut PT Nusalindo sebagai pelaksana kegiatan sejauh ini bersikap kooperatif dalam proses penanganan dan pembersihan.

Sementara itu, proses pengangkatan kerangka kapal masih terus berjalan. Saat ini pekerjaan telah memasuki tahap season 4, sementara tahap berikutnya akan dilakukan dengan pemotongan dan pengangkatan bagian-bagian kapal secara terpisah.

BACA JUGA:  Takbiran di Kupang Jadi Simbol Harmoni, Libatkan Lintas Agama dan Budaya

Simon berharap seluruh proses pengangkatan kerangka kapal dapat diselesaikan pada akhir Agustus 2026, sekaligus memastikan seluruh sisa minyak yang masih berada di lima titik terdampak dapat dibersihkan.

“Prinsipnya kami akan proaktif untuk menyelesaikan itu. Penanganan lingkungan maritim dari dampak pencemaran menjadi perhatian utama,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.