Belajar dari “Asa dan Rasa”: Kejujuran, Harapan dan Masa Depan NTT

oleh -709 Dilihat
Peluncuran Buku “Asa dan Rasa” Satu Tahun Kepemimpinan Melki-Johni. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa semangat Gerakan Ayo Bangun NTT terus dikumandangkan sebagai bagian dari upaya mendorong pembangunan daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikannya saat memberi sambutan pada peluncuran buku berjudul “Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT”, yang menjadi dokumentasi sekaligus refleksi perjalanan satu tahun pemerintahan di Provinsi NTT.

Menurut Johni, buku tersebut bukan sekadar laporan kinerja pemerintah, melainkan ruang refleksi yang jujur antara harapan dan realitas yang dirasakan masyarakat.

“Yang kita diskusikan hari ini bukan sekadar dokumentasi kinerja. Ini adalah upaya membaca perjalanan awal pemerintahan—antara harapan dan kenyataan yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebijakan pemerintah tidak hanya penting untuk dibuat, tetapi juga harus benar-benar dirasakan, dimaknai, dan direspons oleh masyarakat. Dalam proses tersebut, muncul berbagai dinamika, termasuk rasa pesimisme yang justru dinilai sebagai bagian penting dari refleksi.

“Ada rasa pesimisme, dan justru itulah kekuatan sebuah refleksi. Ketika kita berani melihat diri secara jujur, di situlah kita bisa melangkah lebih baik ke depan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Johni menyebut bahwa konsep “asa” dalam buku tersebut mencerminkan harapan politik yang dititipkan rakyat, sementara “rasa” merepresentasikan pengalaman nyata masyarakat di lapangan. Perpaduan keduanya menjadi dasar penting dalam mengevaluasi arah pembangunan ke depan.

Ia juga mengakui bahwa satu tahun pemerintahan masih merupakan tahap awal yang berfokus pada peletakan fondasi pembangunan. Meski demikian, sejumlah kemajuan mulai terlihat, terutama pada sektor layanan kesehatan, pendidikan, serta reformasi birokrasi.

“Fondasi sudah mulai dibangun, tetapi kualitas dan kesinambungan akan sangat menentukan arah pembangunan NTT ke depan,” ujarnya.

BACA JUGA:  RKPD 2027 Jadi Langkah Strategis Wujudkan Visi “Kota Kasih” Kota Kupang

Sementara itu, Editor buku, Rudi Rohi, menjelaskan bahwa buku tersebut menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Buku ini memuat berbagai catatan kritis, testimoni, serta refleksi dari berbagai pihak mengenai kondisi riil di lapangan.

“Buku ini menjadi pengingat bahwa seberapa tinggi harapan dan mimpi, kebijakan harus tetap berpijak pada realitas di akar rumput,” katanya.

Menurut Rudi, proses penyusunan buku melibatkan berbagai perspektif, mulai dari akademisi, praktisi, hingga masyarakat umum, sehingga menghasilkan narasi yang lebih utuh dan berimbang.

Peluncuran buku ini juga menjadi ajakan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus terlibat aktif dalam pembangunan daerah. Pemerintah, kata Johni, tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat.

“Dialog seperti ini penting agar kita bisa terus belajar bersama dan membangun NTT yang lebih maju, sehat, dan cerdas,” pungkasnya.

Buku “Asa dan Rasa” diharapkan tidak hanya menjadi catatan perjalanan pemerintahan, tetapi juga menjadi cermin evaluasi sekaligus inspirasi dalam memperkuat arah pembangunan NTT ke depan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.