Bendungan Lere Sabu Raijua Kini Masuk Kajian: Diperbaiki atau Dihapus?

oleh -68 Dilihat
Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS NTT II, Nahason Harianja. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Nasib Bendungan Lere di Kabupaten Sabu Raijua kembali menjadi sorotan. Infrastruktur yang dibangun sejak tahun 1993 itu hingga kini belum pernah dimanfaatkan oleh masyarakat akibat mengalami kebocoran sejak awal.

Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS NTT II, Nahason Harianja, ST, MT mengungkapkan bahwa Bendungan Lere saat ini sedang dalam tahap kajian teknis untuk menentukan langkah ke depan.

“Bendungan Lere perlu dilakukan kajian teknis agar tidak terjadi pemborosan dalam pemeliharaan,” ujar Nahason kepada wartawan pada Jumat, 7 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, awalnya bangunan tersebut berstatus embung. Namun dalam perjalanannya berubah menjadi bendungan. Sayangnya, sejak selesai dibangun sekitar tahun 1996, bendungan tersebut tidak dapat digunakan karena mengalami kebocoran dan tidak mampu menampung air secara optimal.

Akibat kondisi tersebut, bendungan yang memiliki panjang bentangan sekitar 50 meter dengan kapasitas tampung kurang lebih 1.500 meter kubik itu tidak pernah memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Selama ini, pemerintah tetap melakukan pemeliharaan dasar terhadap aset tersebut. Namun, pada tahun 2026, anggaran pemeliharaan yang tersedia hanya sebesar Rp48 juta dan dinilai tidak sebanding dengan manfaat yang dihasilkan.

“Kalau terus dipelihara tanpa ada manfaat, itu bisa menjadi pemborosan keuangan negara,” tegasnya.

Menurut Nahason, pihaknya telah berkoordinasi dengan pembina di tingkat pusat untuk mencari solusi terbaik. Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah perbaikan dengan teknologi geomembran guna mengatasi kebocoran.

Namun, jika secara teknis dan ekonomis dinilai tidak layak, opsi penghapusan aset juga akan dipertimbangkan. Meski demikian, proses penghapusan tidak mudah karena bendungan tersebut telah tercatat sebagai aset negara di Kementerian Keuangan.

BACA JUGA:  Gubernur Melki Laka Lena Tegaskan SMK Perbatasan Harus Jadi Pusat SDM Berdaya Saing Internasional

“Kalau memang tidak layak secara ekonomis, bisa dipertimbangkan untuk dihapus. Tapi prosesnya tidak sederhana karena sudah tercatat sebagai aset negara,” jelasnya.

Alternatif lain yang juga dipertimbangkan adalah mengubah kawasan tersebut menjadi lahan produktif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, sehingga tidak lagi menjadi aset mangkrak.

Kajian teknis yang sedang dilakukan diharapkan dapat memberikan keputusan terbaik, apakah Bendungan Lere masih layak diselamatkan atau justru harus dilepas demi menghindari kerugian negara yang terus berlanjut.

Hingga kini, bendungan tersebut tetap berdiri tanpa fungsi, menjadi simbol proyek yang dibangun namun gagal dimanfaatkan selama lebih dari tiga dekade. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.