Bukan Sekadar Prestasi, Cintya Tegok Jadikan Platform Puteri Indonesia 2026 untuk Advokasi Pendidikan NTT

oleh -129 Dilihat
Crescentia Atniseyla Tegok. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang- Bagi Crescentia Atniseyla Tegok atau yang akrab disapa Cintya, pendidikan bukan hanya soal nilai, peringkat, atau laporan resmi di atas kertas. Pendidikan, menurutnya, adalah tentang harapan-harapan anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang setiap hari datang ke sekolah dengan semangat meskipun di tengah keterbatasan fasilitas dan akses belajar yang belum merata.

Gadis kelahiran Nekang, Ruteng, 23 Maret 2007 ini dikenal sebagai Puteri Manggarai 2025 yang aktif menyuarakan isu pendidikan, khususnya penguatan literasi dan numerasi dasar bagi anak-anak di daerah. Melalui peran tersebut, Cintya mengamati secara langsung kondisi pendidikan di lapangan yang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam kemampuan memahami bacaan, berpikir logis, hingga penguasaan Bahasa Inggris.

Ia mengaku prihatin saat membaca data Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menunjukkan bahwa NTT berada pada peringkat terendah secara nasional dalam capaian nilai Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Namun di balik keprihatinan itu, muncul panggilan untuk berbuat lebih.

“Banyak anak-anak yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi belum mendapatkan kesempatan yang setara, baik dalam hal akses buku, ruang belajar yang nyaman, maupun pendampingan belajar yang konsisten,” ujarnya.

Kesadaran tersebut mendorong Cintya untuk mengambil langkah nyata melalui kolaborasi dengan Rumah Baca Aksara di Kabupaten Manggarai. Bersama komunitas literasi tersebut, ia terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi yang bertujuan menumbuhkan minat baca dan kemampuan literasi anak-anak, baik di lingkungan sekolah maupun komunitas.

Menurutnya, literasi tidak harus selalu dimulai dari ruang kelas formal. Literasi dapat tumbuh dari komunitas, relawan, serta kepedulian bersama. Ia melihat sendiri bagaimana anak-anak yang awalnya enggan membaca perlahan mulai berani membuka buku, bertanya, berdiskusi, hingga mengungkapkan pendapat mereka.

BACA JUGA:  “Hantu” HIV/AIDS Mengintai Masa Depan Generasi Muda NTT

Melalui advokasi yang ia bawa, Cintya menekankan pentingnya penguatan literasi dan numerasi dasar sebagai fondasi utama pendidikan. Ia percaya bahwa kemampuan membaca dengan baik, memahami informasi, serta berpikir logis akan membantu anak-anak lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Lebih dari sekadar ajang prestasi, Cintya memanfaatkan platform Puteri Indonesia sebagai ruang untuk memperluas dampak advokasi pendidikan yang telah ia mulai di daerah. Kesempatan tersebut memberinya jejaring, pembelajaran kepemimpinan, serta peluang berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas hingga sektor swasta.

“Puteri Indonesia bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tanggung jawab untuk menyuarakan isu-isu penting, termasuk pendidikan bagi anak-anak di NTT,” jelasnya.

Saat ini, Cintya tercatat sebagai mahasiswi Semester II pada Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Nusa Cendana. Dukungan keluarga, khususnya dari sang ayah Patrisius Tegok dan ibu Dorotea Deri, menjadi motivasi tersendiri dalam setiap langkah yang ia tempuh.

Melalui advokasi literasi ini, Cintya berharap dapat menumbuhkan harapan bagi generasi muda NTT agar lebih percaya diri, berdaya saing, serta mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Ia meyakini bahwa dengan kolaborasi dan komitmen bersama, kualitas pendidikan di NTT dapat terus bertumbuh menuju masa depan yang lebih baik. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.