Dari Cleaning Service hingga Jadi Legislator, Kisah Perjuangan Panjang Junaidin Mahasan

oleh -61 Dilihat
Sekertaris DPW PSI NTT, Junaidin Mahasan. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu dimulai dari keadaan yang serba berkecukupan. Bagi Anggota DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Junaidin Mahasan, perjuangan menuju kursi legislatif justru berawal dari pekerjaan sederhana sebagai cleaning service di kampus Universitas Muhammadiyah Kupang.

Kisah tersebut dibagikan Junaidin saat menjadi pembicara dalam acara Masa Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Kupang, Senin, 28 September 2026.

Di hadapan para mahasiswa baru, Junaidin mengisahkan masa ketika dirinya harus membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebelum menjadi anggota DPRD NTT, ia pernah bekerja sebagai cleaning service di kampus tempatnya menempuh pendidikan. Tugasnya sederhana, mulai dari membersihkan ruang kelas, menyapu lantai hingga mengangkat sampah.

Namun, pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

“Saya pernah menjadi cleaning service di kampus Universitas Muhammadiyah Kupang. Saya membersihkan ruang kelas, menyapu lantai, mengangkat sampah, dan bekerja ketika sebagian orang mungkin sedang sibuk mengejar cita-citanya,” ungkap Sekretaris Komisi II DPRD NTT itu.

Selama kurang lebih tiga tahun menjalani pekerjaan tersebut, Junaidin mengaku hanya menerima gaji Rp75 ribu per bulan.

Di sisi lain, biaya kos yang harus dibayarnya mencapai Rp60 ribu per bulan. Artinya, hanya tersisa Rp15 ribu untuk kebutuhan lainnya.

Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, Junaidin memanfaatkan waktu luangnya dengan berjualan kue secara keliling.

Setiap hari, sekitar satu jam waktunya digunakan untuk berjualan kue.

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap melanjutkan pendidikan. Baginya, pekerjaan bukan alasan untuk menghentikan langkah dalam mengejar pendidikan dan masa depan.

“Saya kuliah sambil bekerja. Saya tahu rasanya membagi waktu antara pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Saya tahu bagaimana rasanya memiliki keterbatasan, tetapi tetap memelihara harapan,” kata Sekertaris DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) NTT ini.

BACA JUGA:  Kapal Baswara Bahari 1 dan 2 Terbengkalai di Labuan Bajo, DPRD NTT Akan Panggil Dinas Perhubungan

Wisuda dengan Jalan Kaki

Salah satu bagian paling emosional dari perjalanan hidup Junaidin terjadi ketika dirinya menyelesaikan pendidikan dan mengikuti wisuda.

Ia mengaku berjalan kaki dari tempat kosnya di kawasan Kayu Putih menuju Aula El Tari Kantor Gubernur NTT untuk mengikuti prosesi wisuda.

Saat itu, ia tidak memiliki uang untuk mengabadikan momen wisuda melalui foto.

Ketika sebagian wisudawan hadir bersama keluarga dan mengabadikan momen bahagia tersebut, Junaidin justru melewati hari wisudanya seorang diri.

“Saya tidak punya uang untuk foto wisuda, sehingga sampai saat ini saya tidak punya foto wisuda. Saat itu orang-orang bersama keluarga menghadiri wisuda dan foto bersama, sementara saya hanya seorang diri,” tuturnya.

Bagi Junaidin, pengalaman tersebut bukan sesuatu yang harus disesali atau disembunyikan. Justru dari masa-masa sulit itulah ia belajar tentang ketekunan, kesabaran dan arti sebuah perjuangan.

Tidak Ada Pekerjaan yang Rendah

Junaidin menegaskan, pengalaman menjadi cleaning service tidak pernah membuatnya merasa rendah diri.

Sebaliknya, pekerjaan tersebut menjadi salah satu sekolah kehidupan yang membentuk dirinya hingga seperti sekarang.

“Saya tidak pernah malu dengan pekerjaan itu. Justru dari pekerjaan sebagai cleaning service, saya belajar satu hal penting: tidak ada pekerjaan yang rendah. Yang rendah adalah ketika seseorang berhenti berjuang untuk masa depannya,” tegasnya.

Kini, perjalanan panjang itu telah membawanya ke kursi DPRD NTT.

Namun, bagi Junaidin, pencapaian tersebut bukan semata-mata tentang posisi atau jabatan. Ia ingin mahasiswa memahami bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan membutuhkan waktu, kesabaran dan kemauan untuk terus bergerak meski dimulai dari keadaan yang sangat terbatas.

BACA JUGA:  Komisi V DPRD NTT ‘Adili’ BKD, Dinkes dan Disdikbud, Nasib 9.000 ASN PPPK Dibahas Tertutup

“Makna dari proses ini adalah bahwa kalau saya tidak bersabar, saya tidak bisa menikmati hasil seperti saat ini,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.