Dari Kampus ke Masyarakat, 1.000 Riset Difokuskan Jawab Tantangan di NTT

oleh -195 Dilihat
Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria Didampingi Gubernur NTT Melki Laka dan Sejumlah Kepala Daerah di NTT Beri Keterangan Pers di Hotel Harper Kupang pada Selasa, 5 Mei 2026. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus mendorong penguatan riset nasional yang berdampak langsung bagi masyarakat. Dalam lima tahun terakhir, tercatat sekitar 67 ribu riset telah digulirkan secara nasional, dengan sekitar 1.000 riset di antaranya dilaksanakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Riset-riset tersebut difokuskan pada penanganan berbagai isu strategis daerah, seperti ketahanan pangan, penurunan kemiskinan, hingga pengentasan stunting yang masih menjadi tantangan utama di NTT.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyambut baik upaya tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukur atas perhatian pemerintah pusat terhadap penguatan riset di daerah.

“Alhamdulillah dan Alleluya, ini menjadi kabar baik bagi NTT. Nanti LLDIKTI Wilayah XV yang akan mengatur, mengurus, serta mendiskusikan implementasinya bersama pemerintah kabupaten/kota,” ujar Melki.

Ia menegaskan, keberhasilan program riset tidak hanya bergantung pada jumlah penelitian, tetapi juga pada sejauh mana hasil riset tersebut dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan Gubernur Melki saat membuka Rapat Koordinasi Terpadu Pimpinan Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Provinsi NTT yang digelar oleh LLDIKTI Wilayah XV di Hotel Harper Kupang, Selasa (5/5/2026).

Dalam forum bertema “Membangun Sinergitas Pendidikan Tinggi, Pemerintah Daerah dan Industri dalam Rangka Akselerasi Pembangunan di NTT” tersebut, Melki menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Perguruan tinggi harus menjadi gerbong utama dalam mendorong lahirnya inovasi dan riset terapan yang menjawab kebutuhan masyarakat. Sementara pemerintah daerah dan dunia industri harus memastikan hasil riset itu bisa diimplementasikan dan memberi nilai tambah,” tegasnya.

Menurut Melki, NTT memiliki potensi besar di berbagai sektor strategis seperti pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga energi terbarukan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal karena masih terbatasnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BACA JUGA:  Gelar Upacara Hari Pahlawan 2025, Wakajati NTT: Saatnya Melanjutkan Api Perjuangan

Karena itu, ia mendorong agar riset yang dilakukan perguruan tinggi tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi mampu diturunkan menjadi solusi konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kolaborasi ini tidak boleh berhenti pada wacana. Harus ada aksi nyata yang berdampak langsung, sehingga mampu mempercepat transformasi pembangunan di NTT menuju daerah yang lebih maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pemprov NTT, lanjut Melki, saat ini juga tengah mengembangkan berbagai program strategis berbasis potensi lokal, salah satunya melalui konsep One Village One Product. Program ini bertujuan mendorong setiap desa memiliki produk unggulan yang bernilai ekonomi tinggi.

Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan program tersebut sangat membutuhkan dukungan riset dan inovasi agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala LLDIKTI Wilayah XV NTT, Prof. Adrianus Amheka, mengatakan forum tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat komunikasi dan menyatukan langkah antar pemangku kepentingan.

“Melalui forum ini, kita harapkan lahir gagasan inovatif dan komitmen bersama untuk menjawab tantangan pembangunan di NTT secara kolaboratif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat nasional dan daerah, di antaranya Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Dr. M. Fauzan Adziman, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria, Anggota Komisi X DPR RI Anita Jacoba Gah, serta sejumlah kepala daerah dan pimpinan perguruan tinggi di NTT.

Melalui sinergi antara kampus, pemerintah, lembaga riset, dan dunia industri, diharapkan hasil-hasil penelitian tidak hanya menjadi laporan akademik, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi nyata dalam mengatasi persoalan masyarakat dan mendorong percepatan pembangunan di Nusa Tenggara Timur.***

BACA JUGA:  Kota Kupang sebagai Rumah Bersama untuk ’Semua’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.