Suarantt.id, Kupang-Sebuah inisiatif inspiratif lahir dari dunia akademik untuk membangkitkan ekonomi pesisir di Kabupaten Rote Ndao. Prof. Dr. Ir. Marcelien Dj Ratoe Oedjoe, M.Si, dosen Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, memimpin sebuah program pelatihan pengolahan dan pemasaran rumput laut Kappaphycus alvarezii bagi kelompok pembudidaya Tulufali di Rote Barat. Program ini menjadi “harapan baru” bagi masyarakat pesisir dalam menghadapi tantangan ekonomi dan perubahan iklim.
Potensi Besar yang Belum Tergarap
NTT dikenal memiliki potensi budidaya laut yang sangat luas, mencapai 15 juta hektare, namun baru 0,006 persen yang dimanfaatkan secara optimal. Khusus untuk rumput laut, NTT memiliki lahan potensial seluas 51.870 hektare, namun baru sekitar 5.205 hektare yang tergarap. Padahal, jika dimaksimalkan, potensi ini dapat menghasilkan 13 juta ton rumput laut kering per tahun.
Kabupaten Rote Ndao sendiri memiliki lahan potensial 32.000 hektare untuk budidaya rumput laut, namun baru 6,9 persen yang dimanfaatkan. Produksi rumput laut Rote Ndao tercatat sebesar 88.028 ton, menempati posisi kedua setelah Kabupaten Kupang. Sayangnya, sebagian besar rumput laut dijual dalam bentuk mentah, dengan harga hanya Rp 5.000–12.000 per kilogram, jauh di bawah potensi nilai tambah yang bisa diraih jika diolah.
Pelatihan Praktis: Dari Dodol hingga Pemasaran Digital
Sebagai bentuk solusi nyata, Prof. Marcelien dan tim menyelenggarakan pelatihan pada 30–31 Mei 2025 di kelompok Tulufali. Materi pelatihan mencakup teknik pengolahan rumput laut menjadi produk siap saji seperti dodol, bakso, mie, dan permen; teknik pengemasan dan pelabelan; serta strategi pemasaran digital.
Melalui simulasi bisnis, peserta pelatihan diperlihatkan bagaimana dari 1 kg rumput laut kering, bisa diproduksi 50 bungkus dodol yang menghasilkan keuntungan bersih hingga Rp 404.500. Sementara untuk permen rumput laut, keuntungan bersih mencapai Rp 390.000 dari modal awal Rp 360.000.
Selain aspek teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya pengemasan yang higienis, menarik, dan sesuai regulasi (PIRT, halal, sertifikat sehat), serta strategi pemasaran daring yang efektif—dari menentukan target audiens hingga menyusun rencana promosi yang matang.
Dampak Positif dan Harapan Ke Depan
Program ini membawa dampak langsung bagi kelompok Tulufali. Dengan bekal keterampilan baru, mereka tak lagi bergantung pada tengkulak, melainkan dapat memasarkan produk mereka langsung ke konsumen dengan harga lebih baik. Diversifikasi produk juga membuka peluang kerja baru, terutama bagi generasi muda pesisir.
Prof. Marcelien menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara akademisi, pemerintah, LSM, dan sektor swasta. “Kami percaya bahwa pendekatan ilmiah dan pendampingan lapangan dapat mengubah paradigma masyarakat dari sekadar pengumpul bahan mentah menjadi pelaku industri kreatif berbasis sumber daya lokal,” ungkapnya.
Dengan nilai karaginan yang dapat mencapai Rp 210.000 per kilogram di pasar lokal dan USD 15–20 per kilogram di pasar internasional, Rote Ndao berpotensi menjadi pusat industri rumput laut nasional.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa alam telah memberi, tinggal bagaimana manusia mengelola dan mensyukurinya. “Jika kita memperlakukan rumput laut dengan pendekatan yang benar—dari produksi, pengolahan, penyimpanan hingga pemasaran—maka nilai ekonominya akan sangat besar. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi tentang keberlanjutan dan kemandirian masyarakat pesisir,” pungkas Prof. Marcelien. ***





