Minat Baca Tinggi, Tapi Kualitas Rendah: Gubernur NTT Beberkan Paradoks Pendidikan

oleh -143 Dilihat
Gubernur NTT Pose Bersama Pengurus PGRI NTT dan Mahasiswa UPG 1945 Kupang pada Jumat, 29 Mei 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan adanya paradoks dalam dunia pendidikan di NTT. Di satu sisi, minat baca masyarakat tergolong tinggi secara nasional, namun di sisi lain kualitas pendidikan masih berada di peringkat bawah.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam kegiatan Pengukuhan Ibunda Guru Provinsi NTT dan Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT di Aula El Tari Kupang, Jumat (29/5/2026).

“TKA kita masih bercokol di tiga terbawah. Kita masih bertahan di urutan 36 dari 38 provinsi se-Indonesia, tapi minat baca kita tertinggi secara nasional. Nah, ini ada yang salah dari cara kita mengurus pendidikan NTT,” ujar Melki.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dibenahi secara bersama melalui pendekatan baru dalam sistem pendidikan. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas guru serta penguatan budaya belajar di masyarakat.

Saat ini, kata Melki, Pemerintah Provinsi NTT telah mengalokasikan anggaran pendidikan yang cukup besar, yakni sekitar Rp2,4 triliun dari total APBD Rp5,5 triliun atau sekitar 45 persen. Namun, besarnya anggaran tersebut belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.

“Anggaran pendidikan kita besar, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Karena itu fokus berikutnya bukan hanya anggaran, tetapi bagaimana kualitas guru dan budaya belajar masyarakat bisa diperkuat,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Pemprov NTT telah meluncurkan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat. Program ini mendorong keluarga untuk menciptakan suasana belajar di rumah setiap pukul 18.00 hingga 19.30 WITA.

“Kita ingin ada waktu tenang untuk membaca, berhitung, belajar kelompok, atau diskusi keluarga. Minimal kita mulai membangun kebiasaan belajar lagi,” tambahnya.

Melki juga menegaskan bahwa guru tetap menjadi faktor kunci dalam peningkatan mutu pendidikan. Ia berharap para pendidik terus meningkatkan kapasitas agar mampu mentransfer ilmu dengan baik kepada siswa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.