Oleh Eddy Ngganggus
Suarantt.id, Kupang-Di neraka, sebuah postingan tengah ramai jadi bahan pembicaraan. Postingan itu ditulis oleh seorang anak lusifer, isinya sederhana tapi menggelitik: “Maunya sampai surga, tetapi mampunya hanya sampai neraka.”
Kalimat singkat itu membuat geger seisi neraka. Betapa tidak, si pemilik akun rupanya menyadari bahwa surga jauh lebih bahagia dibanding neraka. Ia TAHU kebenaran itu, tetapi ia TIDAK MAMPU memenuhinya.
Masalah utama ternyata bukan pada niat, melainkan syarat masuk surga yang mustahil bagi mereka. Pintu surga begitu kecil, sementara tubuh anak lusifer jauh lebih besar—bahkan empat kali lipat dari ukuran pintu itu. Anak-anak lusifer memang dikenal gemuk-gemuk, dan kegemukan itu bukan soal pola makan, melainkan warisan genetis.
Anak lusifer sempat protes, tetapi pihak surga tegas: ini sudah menjadi SOP (Standar Operasional Prosedur). Demi bisa lolos, ia pun menjalani diet ketat di bawah pengawasan malaikat. Namun hasilnya tetap nihil. Bahkan udara yang ia hirup dan air jernih yang ia minum justru membuat tubuhnya tambah tambun. Dengan kata lain, tubuh mereka memang tidak kompatibel dengan pintu surga.
Karena merasa buntu, lusifer mencari siasat lain. Mereka menikah dengan keturunan malaikat surga yang tinggal di bumi. Harapannya, dari pernikahan itu lahirlah keturunan hybrid atau nefilim yang punya gen surgawi sekaligus tubuh yang lebih proporsional. Dan benar, generasi ini berkembang pesat di bumi. Rekayasa genetik pun dilakukan agar keturunan baru ini bisa lebih “kompatibel” dengan ukuran pintu surga.
Hasilnya cukup menggembirakan: secara fisik, para nefilim tampak layak masuk surga. Namun ketika tiba di depan gerbang, masalah lain muncul. Bukan lagi soal ukuran tubuh, melainkan soal restu. Pernikahan antara lusifer dan anak malaikat ternyata belum sah secara adat surgawi, karena tidak pernah mendapat meterai penghulu malaikat. Meterai itu hanya bisa didapat dengan mengikuti perjamuan makan di surga, yang syaratnya tentu saja: masuk lewat pintu surga.
Ironis. Upaya panjang dan rekayasa besar-besaran akhirnya kandas di ambang pintu, karena urusan adat tak kunjung beres.
Begitulah kisah ini viral di neraka. Entah dianggap humor, sindiran, atau sekadar fiksi alegoris, setiap orang bisa memaknainya sesuai imajinasi masing-masing. Yang jelas, ada pesan moral yang menggelitik: tahu kebenaran tidak sama dengan mampu melakukannya.






