Program Bangun Karya Jadi Model Kolaborasi Pemberdayaan UMKM Berbasis Regulasi dan Inovasi

oleh -3529 Dilihat
Gubernur NTT Memberi Sambutan di Acara Program Bangun Karya, hasil kolaborasi antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bentoel Group di Aula Rujab Gubernur NTT pada Rabu, 4 Juni 2025. (Foto Hiro)

Suarantt id, Kupang-Program Bangun Karya, hasil kolaborasi antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bentoel Group, resmi ditutup dalam sebuah upacara yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kupang pada Rabu (4/6/25).

Program ini merupakan bagian dari kampanye keberlanjutan Bangun Bangsa dan telah memberikan pendampingan intensif kepada 10 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan olahan, kosmetik, dan obat tradisional. UMKM binaan tersebar di empat kabupaten/kota prioritas, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Alor.

Salah satu capaian utama program ini adalah pembangunan rumah produksi sesuai standar Good Manufacturing Practices (GMP), yang secara signifikan mempercepat proses perizinan dari BPOM RI. Selain itu, lebih dari 300 warga dan pelaku usaha mikro telah mendapatkan edukasi tentang praktik produksi yang baik dan sesuai regulasi.

Diluncurkan sejak Mei 2024, Bangun Karya menjadi wadah kolaborasi strategis antara sektor industri, pemerintah daerah, dan regulator nasional dalam mendorong pemberdayaan UMKM lokal menuju daya saing global.

Dalam sambutannya, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi sektor swasta dan BPOM dalam memperkuat perekonomian daerah melalui pemberdayaan UMKM.

“Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat mampu menjawab tantangan konkret di lapangan. Kita mulai dari desa, dari pelaku UMKM kecil untuk membangun NTT yang berdaya saing dan siap menghadapi pasar global,” ujar Melkiades.

“Semangat ini sejalan dengan Program One Village, One Product (OVOP) yang baru kami luncurkan, sebagai bagian dari transformasi ekonomi dari desa,” tambahnya.


Kepala BPOM RI, Irjen. Pol. Dr. Jayadi, menegaskan bahwa lembaganya berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal.

“Legalitas bukan hanya soal izin, tapi juga jaminan mutu bagi masyarakat. BPOM sangat mendukung inisiatif yang mendorong UMKM tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga patuh terhadap regulasi keamanan produk,” tegas Jayadi.


Dian Widyanarti, Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, menyampaikan bahwa keberhasilan Bangun Karya merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam membangun masa depan UMKM Indonesia yang inklusif dan kompetitif.

“Kami ingin memastikan bahwa pelaku UMKM di daerah seperti NTT memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang. Program ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga praktis, termasuk dalam pendampingan fasilitas produksi sesuai standar BPOM,” jelas Dian.

“Kami percaya bahwa dampak sosial yang berkelanjutan hanya dapat tercapai jika dunia usaha turut aktif mengambil peran dalam pembangunan inklusif,” imbuhnya.


Dian juga menyampaikan harapan agar pemerintah terus memberikan dukungan terhadap keberlanjutan industri tembakau yang dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam aspek budaya, penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan ekonomi kerakyatan.

BACA JUGA:  Gubernur NTT Imbau Warga untuk Tenang Tanpa Terprovokasi

Upacara penutupan ini juga dirangkai dengan penayangan dokumentasi capaian program, penyerahan penghargaan kepada 10 UMKM terbaik, serta ramah tamah bersama seluruh pemangku kepentingan.

Bangun Karya diharapkan dapat menjadi model kolaborasi lintas sektor yang dapat direplikasi di daerah lain dalam mendukung pemberdayaan UMKM berbasis regulasi, inovasi, dan keberlanjutan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.