SMA Unggul Garuda Jadi Harapan Baru di Tengah Tantangan Pendidikan NTT

oleh -82 Dilihat
Gubernur NTT, Melki Laka Lena menyapa dan menyalami siswa SMAN 1 Soe. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Soe-Di tengah tantangan serius yang dihadapi sektor pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT), kehadiran SMA Unggul Garuda di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dinilai menjadi harapan baru dalam mencetak generasi unggul di daerah tersebut.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat mensosialisasikan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat di SMA Negeri 1 Soe pada Kamis (11/6/2026).

Melki mengungkapkan bahwa mutu pendidikan di NTT saat ini masih berada di kelompok tiga terbawah secara nasional. Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm serius bagi semua pihak untuk segera melakukan perubahan mendasar dalam pengelolaan pendidikan.

“Kalau kita tidak mengubah cara kita mengurus pendidikan, kita sedang mengubur masa depan anak-anak NTT,” tegasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Melki menilai pembangunan SMA Unggul Garuda oleh pemerintah pusat di Kabupaten TTS merupakan langkah strategis yang menunjukkan kepercayaan besar terhadap potensi daerah.

Menurutnya, keputusan Presiden Prabowo Subianto memilih TTS sebagai lokasi pembangunan sekolah unggulan bukan tanpa alasan.

“Presiden percaya bahwa dari daerah ini juga bisa lahir anak-anak hebat yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” ujarnya.

Melki berharap kehadiran SMA Unggul Garuda tidak hanya menjadi simbol kemajuan, tetapi juga menjadi pemicu semangat bagi seluruh elemen pendidikan di NTT untuk bangkit dan berbenah.
Selain itu, Pemerintah Provinsi NTT juga meluncurkan Gerakan Jam Belajar Masyarakat sebagai upaya membangun kembali budaya belajar yang melibatkan keluarga dan lingkungan.

Melalui Pergub Nomor 24 Tahun 2026, masyarakat didorong untuk menghidupkan kembali tradisi belajar di rumah setiap hari pukul 18.00 hingga 19.30 WITA. Dalam waktu tersebut, anak-anak diharapkan fokus belajar, sementara orang tua mendampingi dan membangun komunikasi keluarga.

BACA JUGA:  Wagub NTT Lepas Pawai Paskah GAMKI Alor, Ajak Warga Bangun Hidup Baru

“Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Keluarga dan masyarakat harus menjadi bagian penting dalam proses ini,” kata Melki.

Ia juga menyoroti pengaruh penggunaan telepon genggam yang dinilai semakin mengurangi kualitas interaksi dalam keluarga. Bahkan, ia menyebut gawai sebagai “narkoba digital” yang menciptakan ketergantungan.

Karena itu, Gerakan Jam Belajar Masyarakat diharapkan mampu menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap gawai sekaligus menghidupkan kembali fungsi keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo menambahkan bahwa gerakan ini bertujuan memperkuat keterhubungan antara sekolah dan keluarga dalam mendidik anak.

“Rumah adalah sekolah pertama dan orang tua adalah guru utama. Jika keduanya tidak terhubung, pendidikan anak tidak akan maksimal,” jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten TTS menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut hingga ke tingkat desa. Upaya ini juga diharapkan dapat berkontribusi dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan stunting di daerah.

Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, kehadiran SMA Unggul Garuda serta Gerakan Jam Belajar Masyarakat diharapkan mampu menjadi titik balik peningkatan mutu pendidikan di NTT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.