Tempat Wisata Pantai Teres Terbengkalai Kini Berubah Jadi Kandang Sapi

oleh -1703 Dilihat
Kajari Kupang Tinjau Lokasi Pantai Teres pada Minggu, 7 September 2025. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Oelamasi-Kawasan wisata Pantai Teres di Kelurahan Buraen Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, kini memprihatinkan. Lokasi yang digadang-gadang menjadi ikon wisata baru itu berubah fungsi menjadi kandang sapi akibat tidak adanya pengelolaan dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kupang.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kupang, Yupiter Selan, yang meninjau langsung lokasi tersebut pada Minggu (7/9/2025), tampak terkejut dengan kondisi yang ada. Aula utama dipenuhi kotoran sapi, sementara fasilitas lain dibiarkan rusak tanpa perawatan.

“Koq bisa seperti ini ya,” ujar Kajari sambil menggeleng-geleng kepala kepada wartawan.

Dalam kunjungan itu, Kajari juga menemukan pekerjaan saluran dan bronjong yang tidak sesuai dengan spesifikasi. Padahal proyek pembangunan Pantai Teres yang dikerjakan sejak 2020 dan diresmikan pada 29 April 2023 itu menelan anggaran miliaran rupiah.

Berdasarkan rencana, kawasan tersebut dilengkapi dengan aula, panggung outdoor, taman bunga bougenvil, lopo bersantai, water mission, kolam renang, kolam pemancingan, hingga akses jalan. Namun kenyataan di lapangan jauh berbeda.

Kolam renang tidak pernah berfungsi karena tidak dilengkapi filter maupun sumber air. Kolam pemancingan tak pernah ada. Bak penampung air yang dibangun justru mengalami kerusakan parah, dengan dinding retak dan pecah. Sebagian besar fasilitas yang dibangun tidak pernah digunakan sejak awal.

Kajari Kupang menilai proyek ini sejak awal dikerjakan tanpa perencanaan yang matang. Meski diklaim sebagai proyek swakelola bersama masyarakat, hasilnya justru menjadi beban daerah.

“Alih-alih memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar, yang ada justru kerugian. Masyarakat tidak mendapatkan apa-apa dari pembangunan ini,” tegasnya.

Kondisi Pantai Teres menambah daftar panjang proyek wisata di NTT yang mangkrak dan tidak memberi kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah penyelamatan agar kawasan tersebut tidak semakin terbengkalai. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.