Wagub Johni Asadoma Tegaskan Guru dan Kepala Sekolah Jadi Garda Terdepan Wariskan Jiwa Juang 1945

oleh -61 Dilihat
Wagub NTT, Johni Asadoma Tutup Acara Pelatihan Calon Sosialisator Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 (JSN ’45) bagi Kepala Sekolah dan Guru se-Provinsi NTT di Hotel Kristal Kupang pada Sabtu, 19 September 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma menegaskan bahwa kepala sekolah dan guru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mewariskan jiwa, semangat, dan nilai-nilai juang 1945 kepada generasi muda.

Penegasan tersebut disampaikan Johni Asadoma saat menghadiri acara Penutupan Pelatihan Calon Sosialisator Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai 1945 (JSN ’45) bagi kepala sekolah dan guru se-Provinsi NTT di Hotel Kristal Kupang, Sabtu (19/9/2026).

Pelatihan tersebut diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (DPP LVRI) sebagai bagian dari upaya memperkuat pewarisan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus melalui lingkungan pendidikan.

Menurut Johni, pemilihan kepala sekolah dan guru sebagai peserta pelatihan memiliki alasan yang kuat. Para pendidik merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan generasi muda sehingga memiliki posisi penting dalam membentuk karakter, sikap, serta cara pandang peserta didik terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Saya rasa ada alasan di balik mengikutsertakan para kepala sekolah dan guru pada kegiatan ini. Karena mereka akan berperan menanamkan jiwa, semangat, dan nilai juang 1945 kepada para siswa/siswi dan memberi manfaat besar bagi generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Johni berharap seluruh materi yang diperoleh selama pelatihan tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dihayati dan diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sebagai kepala sekolah maupun guru.

Ia menekankan, pewarisan nilai-nilai JSN ’45 tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi di ruang kelas. Nilai perjuangan harus diwujudkan melalui sikap dan keteladanan para pendidik.

“Khusus bagi kepala sekolah, Anda adalah lokomotif pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Kalau kepala sekolahnya lemah, tidak punya semangat juang yang tinggi, maka ke bawah juga akan terpengaruh semua,” tegas Johni.

BACA JUGA:  Wagub Johni Ajak Warga Manfaatkan Lahan Kosong untuk Dukung Program MBG di Manggarai

Ia juga mengingatkan para guru untuk terus membangun kedisiplinan dan motivasi belajar peserta didik. Menurutnya, generasi muda harus dipersiapkan menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta persaingan yang semakin cepat.

“Kita harus membangun motivasi belajar bagi mereka (anak sekolah) dan harus disiplin. Karena disiplin adalah napas kehidupan. Tidak ada orang yang maju dan berhasil tanpa disiplin yang kuat,” ujarnya.

Johni menambahkan, sekolah tidak hanya bertugas membekali peserta didik dengan kemampuan akademik. Pendidikan juga harus mampu membangun karakter, kreativitas, keterampilan, tanggung jawab, semangat belajar, serta daya juang.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, ia mengingatkan agar teknologi dan media sosial digunakan secara bijaksana. Teknologi, kata dia, dapat menjadi sarana untuk mendorong kreativitas dan inovasi, tetapi penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak mengganggu proses belajar dan perkembangan peserta didik.

Sementara itu, Ketua Umum DPP LVRI Jenderal TNI (Purn.) H.B.L. Mantiri mengatakan, perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu.

Menurut Mantiri, nilai-nilai perjuangan harus menjadi sumber kekuatan moral bagi generasi penerus dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam sambutannya, Mantiri mengangkat kisah Herman Josef Fernandes, putra NTT yang sejak usia muda terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan sebagai anggota Tentara Pelajar.

Ia mengatakan, perjalanan perjuangan Herman Josef Fernandes mencerminkan nilai nasionalisme, patriotisme, kemanusiaan, keberanian, tanggung jawab, rela berkorban, dan pantang menyerah.

Kisah tersebut, menurut Mantiri, penting dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun melalui pengorbanan nyata para pendahulu bangsa.

“Pewarisan JSN 45 bukan berarti mengajak generasi muda untuk hidup di masa lalu, tapi diharapkan nilai-nilai luhur perjuangan masa lalu menjadi kekuatan moral untuk menghadapi tantangan masa kini dan masa depan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pemkot Kupang Sulap Tagepe Jadi Pusat Seni, Literasi, dan Ekonomi Kreatif

Mantiri juga menyampaikan empat prinsip dalam menghadapi persoalan dan tantangan kehidupan, yakni be prepared for it, be patient in it, be prayerful to it, dan be productive because of it.

Ia berharap para peserta pelatihan tidak hanya mampu menjelaskan JSN ’45, tetapi juga mampu menunjukkan nilai-nilai tersebut melalui pikiran, perasaan, sikap, dan tindakan.

Melalui pelatihan ini, para kepala sekolah dan guru diharapkan dapat menjadi sosialisator JSN ’45 di sekolah masing-masing. Dengan demikian, nilai-nilai perjuangan tidak berhenti sebagai pengetahuan sejarah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan peserta didik melalui sikap disiplin, tanggung jawab, persatuan, kerja keras, semangat belajar, serta kepedulian terhadap bangsa dan sesama.

Kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat peran dunia pendidikan di NTT dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, memiliki semangat kebangsaan, disiplin, bertanggung jawab, serta siap menghadapi tantangan masa depan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.