Suarantt.id, Kupang-Teolog senior Indonesia Andreas A. Yewangoe mengingatkan bahwa persoalan ekologi bukanlah isu baru, melainkan persoalan lama yang semakin mendesak akibat kemajuan teknologi dan pola pembangunan yang berlebihan. Menurutnya, dua bidang ilmu biologi dan teknologi telah membawa kemajuan pesat, tetapi juga menjadikan manusia seperti “makhluk pintar tanpa perasaan” yang cenderung mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampaknya.
“Persoalan ekologi sudah lama menjadi perhatian. Kita melihat kebocoran lapisan ozon, deforestasi, industrialisasi berlebihan, sampai hutan lebat yang diganti dengan hutan buatan. Semua ini akibat pola pikir pembangunan yang tidak ramah lingkungan,” ungkap Yewangoe dalam Seminar Nasional Sekolah Tinggi Theologia (STT) IKAT Jakarta bertema “Bersahabat dengan Alam” di Hotel Swiss Bellcourt, Kelapa Lima, Kota Kupang pada Selasa (23/9/2025).
Janji Negara Maju Belum Ditepati
Yewangoe menyoroti ketimpangan global dalam pengelolaan lingkungan. Ia menyebut negara berkembang sering diminta menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia, tetapi negara maju tidak memenuhi janji kompensasi atau dukungan yang dijanjikan. “Kenyataannya, janji itu tidak pernah ditepati. Ini menjadi beban berat bagi negara berkembang,” ujarnya.
Kritik Industrialisasi Berlebihan
Menurut Yewangoe, industrialisasi yang berlebihan berdampak serius pada ekologi: pencemaran udara, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga kerusakan hutan alami. Ia mencontohkan kawasan hutan di Kalimantan yang kini banyak digantikan dengan hutan buatan dan perkebunan besar. “Kita tidak bisa mengganti begitu saja hutan lebat dengan hutan buatan lalu menganggap masalah selesai,” tegasnya.
Seruan Menghormati Alam
Teolog yang lama menggeluti isu ekoteologi ini mengingatkan agar masyarakat dan pemerintah kembali menghargai alam sebagai rumah bersama. Ia mendorong semua pihak termasuk gereja, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal untuk mempraktikkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan serta mendesak negara maju menepati komitmen pendanaan iklim.
“Manusia diciptakan untuk menjaga bumi, bukan menguasainya secara serakah. Kemajuan teknologi seharusnya membuat kita lebih bijak, bukan semakin merusak lingkungan,” tutupnya. ***





