Spiritualitas Ekologis Jadi Jawaban di Era Kediktatoran Digital

oleh -754 Dilihat
Teolog senior Indonesia, Andreas A. Yewangoe. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Teolog senior Indonesia, Andreas A. Yewangoe, menegaskan perlunya penghayatan spiritualitas ekologis yang berakar pada teologi keugaharian sebagai jawaban atas krisis lingkungan hidup dan tantangan “kediktatoran digital” di era modern. Pandangan ini ia paparkan dalam tulisannya berjudul “Spiritualitas Ekologis di Era Kediktatoran Digital: Perspektif Teologi Keugaharian”.

Menurut Yewangoe, spiritualitas ekologis bukan sekadar doa atau wacana teologis, tetapi komitmen nyata untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama (oikos). Ia mengingatkan bahwa teknologi digital dan pola hidup konsumeristis cenderung menjauhkan manusia dari keseimbangan ekologis dan nilai-nilai kesederhanaan.

“Spiritualitas ekologis harus menjadi gaya hidup, bukan sekadar seremonial. Menghormati bumi berarti menghormati Sang Pencipta,”ungkapnya dalam Seminar Nasional Sekolah Tinggi Theologia (STT) IKAT Jakarta bertema “Bersahabat dengan Alam” di Hotel Swiss Bellcourt, Kelapa Lima, Kota Kupang pada Selasa (23/9/2025). 

Lingkungan Hidup: Persoalan Abadi

Yewangoe mengulas panjang soal kerusakan lingkungan, dari deforestasi, pemanasan global, hingga krisis air. Ia menyoroti bagaimana negara-negara maju kerap menuntut negara berkembang menjaga hutan, namun tidak menepati janji kompensasi. “Bumi kita indah, tapi kini seperti bahtera Nuh. Jika tidak taat pada aturan, bahtera ini akan karam,” ujarnya.

Ekoteologi dan Koreksi Teologis

Mengutip pandangan Jürgen Moltmann dan kritik Lynn White, Yewangoe menegaskan bahwa teologi penciptaan Kristen sering disalahpahami sebagai legitimasi eksploitasi alam. Padahal, kata dia, mandat “berkuasa” atas bumi dalam Kejadian 1:28 sejatinya berarti pengelolaan damai (rule of peace) dan pemeliharaan, bukan dominasi.

“Alam semesta tetaplah milik Allah; manusia hanya anggota komunitas penciptaan,” tulisnya sambil mengingatkan agar sejarah manusia dan sejarah alam dipandang sebagai satu kesatuan.

Belajar dari Tradisi Adat dan Agama Suku

BACA JUGA:  Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur NTT Jadi Polemik, Bupati Terancam Sanksi

Yewangoe menilai masyarakat adat Nusantara memiliki kearifan ekologis yang patut ditiru. Ia mencontohkan praktik “Sumpah Adat” di Timor Tengah Selatan era Piet Tallo yang efektif melindungi hutan. “Sikap hormat terhadap bumi jauh lebih mantap di masyarakat adat,” ungkapnya. Ia juga menyoroti spiritualitas Aborigin Australia yang melihat tanah sebagai entitas hidup dan sakral.

Keugaharian: Gaya Hidup Secukupnya

Kunci spiritualitas ekologis menurut Yewangoe adalah keugaharian—gaya hidup sederhana, secukupnya, tidak berlebih-lebihan. Konsep ini, katanya, sempat diangkat kembali oleh Sidang Raya PGI 2015 di Nias. “Kalau kita memboroskan sumber daya alam, kita sedang merampok hak anak cucu kita,”jelasnya.

Tantangan Era Kediktatoran Digital

Di era kecerdasan buatan dan teknologi digital yang serba cepat, Yewangoe memperingatkan risiko “dehumanisasi teknologi” yang meminggirkan hati nurani. Ia mengutip Barbara Ward: “We have forgotten how to be good guests, how to walk lightly on the earth as its other creatures do.”

Seruan Aksi Nyata

Yewangoe mengkritik langkah-langkah lingkungan yang hanya seremonial seperti penanaman pohon tanpa perawatan lanjutan. Ia mendorong gereja-gereja dan masyarakat luas untuk mengubah spiritualitas ekologis menjadi aksi konkret, dari pengelolaan sampah hingga pengambilan keputusan pembangunan.

“Spiritualitas ekologis mestinya lebih luas daripada sekadar khotbah. Ia adalah penghormatan kepada bumi, komitmen bagi kelestarian ciptaan, dan kemuliaan bagi Allah,” tegasnya.

Andreas A. Yewangoe mengajak gereja dan masyarakat Indonesia menghidupi spiritualitas ekologis dan gaya hidup ugahari agar bumi tetap lestari di tengah derasnya arus teknologi digital. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.