Kejar PAD Rp2,8 Triliun, Anggota Fraksi PKB Dorong Sekda NTT Figur Muda Berpengalaman Kelas Nasional

oleh -855 Dilihat
Anggota Fraksi PKB NTT, Yohanes Rumat. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menilai Provinsi NTT membutuhkan sosok Sekretaris Daerah (Sekda) yang berpengalaman dan memiliki kapasitas kerja kelas nasional guna mendukung target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp2,8 triliun yang dicanangkan Gubernur NTT.

Anggota Fraksi PKB DPRD NTT, Yohanes Rumat, mengatakan dalam beberapa pekan terakhir publik ramai membicarakan siapa figur yang paling pantas mengisi jabatan Sekda NTT. Menurutnya, posisi Sekda sangat strategis karena menjadi penggerak utama birokrasi dan dapur pemerintahan daerah.

“Gubernur tidak bisa berjalan sendiri. Sekda itu adalah tim inti yang mengatur seluruh sistem birokrasi, keuangan, dan sumber daya aparatur. Karena itu, dibutuhkan figur yang benar-benar kuat, berpengalaman, dan mampu bekerja dalam tekanan target PAD yang besar,” kata Yohanes kepada wartawan di ruang Fraksi PKB NTT pada Kamis, 8 Januari 2026.

Ia menyebutkan tiga nama calon Sekda NTT yang dinilai memiliki rekam jejak baik, yakni Fransiskus Sales Sodo, Servulus Bobo Riti, dan Ruth Diana Laiskodat. Menurutnya, ketiganya merupakan figur hasil seleksi ketat dan bukan sosok sembarangan.

“Ini bukan orang-orang kaleng-kaleng. Tiga-tiganya punya kualitas, pengalaman, dan track record yang baik. Tetapi dari yang terbaik itu, tentu harus dipilih satu yang paling sesuai dengan kebutuhan NTT saat ini,” ujarnya.

Yohanes menekankan, PKB berpandangan NTT membutuhkan figur Sekda yang relatif muda, berpengalaman di birokrasi, serta mampu mengelola aparatur sipil negara (ASN) tanpa menimbulkan konflik internal. Salah satu opsi yang dinilai tepat adalah menghadirkan figur dari luar birokrasi internal Pemprov NTT.

“Selama ini kalau Sekda dari internal, selalu muncul konflik kepentingan, baik soal jabatan eselon II, III, maupun IV. Maka kami berpandangan figur dari luar bisa lebih netral dan menenangkan dinamika internal PNS,” jelasnya.

Ia secara terbuka menyebut pengalaman birokrasi di daerah dengan kelas nasional seperti Manggarai Barat menjadi nilai tambah. Menurutnya, daerah tersebut mampu meningkatkan PAD secara signifikan melalui kerja sama yang solid antara kepala daerah dan Sekda.

“Pendapatan asli Manggarai Barat bahkan melampaui provinsi. Ini menjadi berkat dan peluang bagi NTT jika pengalaman itu bisa ditarik ke tingkat provinsi,” katanya.

Yohanes juga menegaskan pentingnya regenerasi kepemimpinan birokrasi. Ia menilai sudah saatnya NTT memberi ruang kepada figur-figur muda potensial agar pembangunan daerah tidak terhenti karena faktor usia dan masa pensiun.

“Kalau kita terus mengangkat orang-orang yang hampir pensiun, maka perubahan sulit terjadi. Orang muda yang berpengalaman harus diberi tanggung jawab agar NTT bisa dibangun secara berkelanjutan,” tegasnya.

Meski Fraksi PKB secara terbuka menyampaikan pandangannya, Yohanes menegaskan pihaknya tetap menghormati mekanisme dan keputusan akhir yang berada di tangan pemerintah pusat.

“Keputusan terakhir tetap ada di Jakarta, sesuai aturan BKN dan Mendagri. Siapapun yang ditetapkan nanti, kami hormati. Tetapi secara politik dan tanggung jawab ke publik, PKB merasa perlu menyampaikan pandangan ini secara terbuka,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.