Revitalisasi Ubah Wajah SD Inpres Naimata, Sistem Tiga Shift Kini Jadi Satu Shift

oleh -206 Dilihat
Kepala UPTD SD Inpres Naimata, Martinus Klau Terima Kunjungan Pejabat Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Kegiatan Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan di Kota Kupang, Selasa, 21 Juli 2026. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Program revitalisasi sekolah yang dijalankan pemerintah membawa perubahan signifikan bagi UPTD SD Inpres Naimata, Kota Kupang. Keterbatasan ruang kelas yang selama bertahun-tahun memaksa siswa belajar dalam tiga shift kini berhasil diatasi, sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dalam satu shift pada pagi hari.

Kepala UPTD SD Inpres Naimata, Martinus Klau, mengatakan sebelum revitalisasi, sekolah yang berdiri sejak 1983 itu hanya memiliki enam ruang kelas dan satu ruang kecil yang difungsikan sebagai ruang kepala sekolah sekaligus guru. Hingga 2012, fasilitas sekolah hanya bertambah sebuah aula.

“Perubahan besar baru terjadi saat kami mendapatkan program revitalisasi pada 2025. Kami memperoleh tambahan ruang kelas, ruang administrasi, serta fasilitas penunjang lainnya. Ini membuat proses belajar mengajar jauh lebih nyaman,” ujar Martinus saat menerima kunjungan pejabat pemerintah pusat dan daerah dalam kegiatan kunjungan jurnalistik revitalisasi pendidikan di Kota Kupang pada Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan, sebelum adanya revitalisasi, sebanyak 539 siswa harus dibagi dalam tiga shift akibat keterbatasan ruang belajar. Kondisi ini berdampak pada durasi pembelajaran yang lebih singkat, dari idealnya 35 menit menjadi hanya sekitar 25 menit, bahkan 20 menit pada hari Jumat. Selain itu, sebagian siswa terpaksa belajar hingga siang dan sore hari.

Kini, seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran secara normal di pagi hari. Menurut Martinus, penerapan sistem satu shift memberikan ruang bagi sekolah untuk mengoptimalkan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, hingga ekstrakurikuler.


“Dengan satu shift, kami bisa lebih fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan karakter siswa,” jelasnya.

Perubahan tersebut juga berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat. Sejumlah orang tua mulai memindahkan anak mereka ke SD Inpres Naimata karena sistem pembelajaran yang lebih teratur dan berlangsung pada pagi hari.

“Kami tidak mungkin menolak anak yang ingin bersekolah. Selama ruang belajar masih tersedia, kami akan menerima mereka, karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak,” tegas Martinus.

Selain penambahan ruang kelas, sekolah juga mendapatkan fasilitas sanitasi berupa tiga unit toilet, masing-masing terdiri dari lima bilik. Fasilitas ini dirancang inklusif sehingga dapat digunakan oleh seluruh siswa, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Martinus menegaskan, revitalisasi bukan sekadar menghadirkan bangunan baru, tetapi menjadi langkah penting dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik. (goe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.