Suarantt.id, Kalabahi-Di antara perbukitan Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), berdiri sebuah perkampungan tradisional yang menyimpan kisah panjang tentang kehidupan, persaudaraan, dan warisan leluhur. Namanya Kampung Adat Takpala, tempat masyarakat Suku Abui terus merawat tradisi di tengah perubahan zaman.
Kampung adat yang terletak di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, ini berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor. Takpala bukan sekadar destinasi wisata budaya, melainkan ruang hidup yang memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga identitas dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, belasan wartawan mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama sejumlah staf mengunjungi kampung adat tersebut.
Kedatangan rombongan disambut dengan suasana khas perkampungan tradisional. Para pengunjung berkesempatan berinteraksi dengan masyarakat, mengabadikan momen melalui swafoto, serta melihat dan membeli berbagai hasil kerajinan yang dipajang di sekitar lokasi.
Di balik aktivitas wisata itu, tersimpan cerita tentang masyarakat yang berusaha mempertahankan warisan budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi mereka kepada dunia luar.
Rumah Adat dan Jejak Kehidupan Leluhur
Salah satu daya tarik utama Kampung Adat Takpala adalah rumah-rumah adat yang berdiri dengan arsitektur tradisional khas Suku Abui.
Rumah adat yang dikenal dengan sebutan Fala Foka atau Matalalo ini memiliki bentuk menyerupai limas, dengan atap berbahan ilalang. Bangunannya bertingkat dan memiliki fungsi berbeda pada setiap bagian.
Lantai pertama digunakan sebagai ruang keluarga dan dapur. Lantai kedua menjadi tempat tidur, lantai ketiga dimanfaatkan untuk menyimpan hasil bumi atau barang-barang lainnya, sedangkan lantai keempat digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka.
Susunan tersebut bukan sekadar bentuk arsitektur tradisional, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat mengatur kehidupan keluarga dan menjaga benda-benda yang memiliki nilai penting bagi mereka.
Di Takpala terdapat 16 rumah adat. Namun, dua di antaranya tidak dihuni dan hanya digunakan ketika berlangsung kegiatan adat.
Keberadaan rumah-rumah tersebut menjadi pengingat bahwa warisan leluhur bukan hanya tentang bangunan yang dipertahankan, melainkan juga tentang nilai, aturan, dan tradisi yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Persaudaraan Menjadi Pegangan
Juru Bicara Kampung Adat Takpala, Martinus Kavel Kai, menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan mempertahankan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
Baginya, keberadaan kampung adat tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab masyarakat untuk menjaga hubungan kekeluargaan sekaligus memastikan tradisi tetap hidup.
Ia mengingatkan agar persaudaraan yang telah terbangun tidak rusak dan kebudayaan yang menjadi identitas masyarakat Takpala tidak sampai hilang.
Pesan tersebut menjadi salah satu nilai penting yang dapat dipetik dari kehidupan masyarakat setempat. Di tengah perkembangan zaman, hubungan antarsesama dan kesadaran menjaga warisan budaya menjadi fondasi bagi keberlangsungan sebuah komunitas adat.
Kampung adat bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga rumah bersama untuk merawat ingatan kolektif tentang asal-usul, nilai kehidupan, dan identitas masyarakat.
Bertani dan Menghormati Tradisi
Sebagian besar masyarakat Takpala menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Aktivitas mengolah lahan menjadi bagian penting dari keseharian mereka.
Namun, kegiatan berkebun tidak dilakukan begitu saja. Menurut penuturan Martinus Kavel Kai, masyarakat memiliki tradisi yang mengatur waktu dimulainya kegiatan tersebut.
Tanggal 27 Juli setiap tahun menjadi penanda dimulainya kegiatan berkebun setelah pelaksanaan ritual adat.
Tradisi ini memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan masyarakat, alam, dan kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur.
Bagi masyarakat adat, ritual bukan sekadar kegiatan seremonial. Tradisi tersebut menjadi bagian dari tata kehidupan yang mengajarkan penghormatan terhadap aturan adat dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan.
Pada Oktober, masyarakat mulai melakukan kegiatan membersihkan kebun sebagai bagian dari aktivitas pertanian mereka.
Kehidupan yang sederhana itu memperlihatkan bahwa masyarakat Takpala masih menjaga hubungan erat dengan tanah dan alam yang menopang penghidupan mereka.
Moko dan Martabat Perempuan dalam Tradisi Belis
Berbicara tentang budaya Alor tidak lengkap tanpa menyebut Moko.
Moko merupakan benda berbentuk seperti genderang kecil dari perunggu yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial dan adat masyarakat Alor. Benda ini dikenal sebagai salah satu unsur penting dalam tradisi perkawinan, khususnya sebagai belis atau pemberian adat.
Dalam penjelasannya, Martinus Kavel Kai menyampaikan bahwa penggunaan Moko dalam tradisi belis berkaitan dengan penghargaan terhadap perempuan dan kedudukannya dalam kehidupan adat.
Makna Moko tidak berhenti pada nilai bendanya. Di balik benda tersebut terdapat hubungan kekeluargaan, penghormatan, serta tanggung jawab yang menyertai ikatan perkawinan.
Tradisi ini menjadi salah satu kekayaan budaya Alor yang membedakan kehidupan masyarakat setempat dari berbagai komunitas lainnya di Nusantara.
Bagi generasi muda, memahami makna Moko berarti mengenal lebih dekat cara leluhur membangun hubungan sosial dan menempatkan adat sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Lego-lego, Simbol Persatuan Masyarakat
Kekayaan budaya Takpala juga tercermin dalam tarian tradisional, terutama Lego-lego.
Tarian ini dilakukan secara melingkar dan dikenal sebagai simbol persatuan, rasa syukur, serta kebersamaan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, gerakan dan irama tarian menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarsesama.
Selain Lego-lego, terdapat pula Cakalele, tarian tradisional yang berkaitan dengan penyambutan dan tradisi perang.
Kedua tarian tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan bukan hanya tersimpan dalam cerita atau benda peninggalan leluhur. Budaya juga hidup melalui gerakan, nyanyian, dan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan adat.
Melalui tradisi seperti ini, nilai kebersamaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi wisatawan, menyaksikan tarian tradisional memberikan kesempatan untuk memahami kebudayaan Takpala lebih dekat, bukan hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman langsung.
Kerajinan Lokal dan Peluang Ekonomi Masyarakat
Di sekitar kawasan kampung adat, berbagai hasil kerajinan masyarakat turut menarik perhatian rombongan wartawan mitra BI NTT.
Sejumlah produk dipajang untuk diperkenalkan kepada para pengunjung. Sebagian wartawan tidak hanya melihat, tetapi juga membeli kerajinan yang ditawarkan masyarakat setempat.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata budaya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan hasil karya mereka.
Ketika wisatawan membeli produk lokal, manfaat kunjungan tidak hanya dirasakan melalui pengalaman menikmati destinasi, tetapi juga berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi warga.
Karena itu, pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan.
Kerajinan tradisional, rumah adat, tarian, dan cerita kehidupan masyarakat merupakan kekayaan yang dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber penghidupan apabila dikelola secara berkelanjutan.
Hidup Sederhana dengan Energi Matahari
Di tengah perkembangan teknologi dan pembangunan, kehidupan masyarakat Takpala masih memperlihatkan kesederhanaan.
Martinus Kavel Kai menjelaskan bahwa kampung adat tersebut belum menggunakan jaringan listrik konvensional. Masyarakat memanfaatkan tenaga surya melalui panel surya atau solar cell untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Kondisi ini menjadi bagian dari gambaran kehidupan masyarakat yang berupaya menjalani keseharian dengan fasilitas yang tersedia, tanpa meninggalkan tradisi yang telah diwariskan.
Di satu sisi, kehidupan tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Namun, di sisi lain, keberlanjutan kampung adat juga membutuhkan perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses energi dan dukungan bagi pengembangan ekonomi lokal.
Pengembangan pariwisata idealnya tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan keberlangsungan lingkungan budaya yang menjadi daya tarik utama.
Takpala, Warisan yang Harus Dijaga Bersama
Kunjungan belasan wartawan mitra BI NTT ke Kampung Adat Takpala pada Jumat, 16 Oktober 2026, menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kekayaan budaya masyarakat Suku Abui.
Di kampung ini, rumah adat menyimpan cerita tentang kehidupan leluhur. Ritual pertanian memperlihatkan hubungan masyarakat dengan alam. Moko menjadi bagian penting dari tradisi belis, sementara Lego-lego menyuarakan semangat persatuan.
Di antara semua itu, pesan tentang menjaga persaudaraan menjadi benang merah yang menghubungkan kehidupan masyarakat Takpala.
Kampung adat ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Tradisi dapat terus hidup selama ada kemauan untuk merawat, memahami, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Takpala bukan hanya tempat untuk dikunjungi dan diabadikan melalui foto. Lebih dari itu, Takpala adalah ruang untuk belajar tentang kesederhanaan, penghormatan terhadap leluhur, dan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia.
Sebab, ketika rumah adat masih berdiri, tradisi masih dijalankan, dan masyarakat tetap menjaga persaudaraan, warisan leluhur akan memiliki kesempatan untuk terus hidup di tengah perubahan zaman. ***





