Suarantt.id, Kalabahi-Konsultan Media dan Komunikasi, Gatot Widakdo, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak cukup hanya mengandalkan promosi keindahan alam. Lebih dari itu, pariwisata membutuhkan narasi yang kuat, bermakna, akurat, dan mampu menggambarkan hubungan antara destinasi, manusia, budaya, serta kehidupan masyarakat lokal.
Menurut Gatot, sebuah destinasi wisata memang dapat dikenal karena pemandangannya, tetapi wisatawan akan memilih dan mengingatnya karena cerita serta pengalaman yang mereka peroleh.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Capacity Building Media 2026 yang mengusung tema “Membangun Narasi Pariwisata NTT dengan Nilai Kedaerahan” di Kabupaten Alor pada Rabu (15/10/2026).
Gatot menjelaskan, NTT memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, mulai dari bentang alam pegunungan, persawahan, savana, pantai, laut, hingga pulau-pulau dengan keunikan masing-masing. Kekayaan tersebut semakin lengkap dengan keberagaman budaya, tradisi, pengetahuan lokal, dan keramahan masyarakat.
Namun, menurutnya, kekayaan itu tidak boleh hanya disajikan melalui tulisan yang menggambarkan keindahan tempat semata. Jurnalis perlu menggali cerita di balik destinasi, termasuk kehidupan masyarakat yang menjaga dan mewariskan kekayaan budaya tersebut.
“Destinasi dikenal karena pemandangannya, tetapi dipilih karena ceritanya. Narasi yang kuat menghubungkan tempat, manusia, makna, dan pengalaman,” demikian pesan utama yang disampaikan Gatot dalam pemaparannya.
Jurnalis Harus Mengangkat Cerita dan Kehidupan Masyarakat Lokal
Gatot menekankan, pemberitaan pariwisata harus memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat lokal untuk menceritakan pengalaman, nilai budaya, serta tantangan yang mereka hadapi.
Menurutnya, jurnalis tidak boleh hanya menempatkan masyarakat sebagai objek pemberitaan, tetapi juga harus menghadirkan mereka sebagai bagian penting dari cerita pariwisata.
Ia mencontohkan kekayaan alam Flores yang memiliki panorama pegunungan, sawah, savana, dan laut yang memukau. Keunikan tersebut juga didukung kehidupan masyarakat yang memiliki tradisi serta karakter budaya tersendiri.
Pengalaman mengunjungi suatu destinasi, kata Gatot, akan menjadi lebih bermakna apabila jurnalis mampu menjelaskan nilai lokal yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, pembaca tidak sekadar mengetahui lokasi wisata atau melihat keindahannya melalui foto dan video, tetapi juga memahami makna budaya, kehidupan sosial, dan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian destinasi tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa NTT bukanlah satu cerita tunggal. Setiap pulau, komunitas, bahasa, tradisi, dan sejarah memiliki karakteristik berbeda yang harus dihormati.
Karena itu, jurnalis perlu melakukan konfirmasi kepada masyarakat setempat agar tidak menyamaratakan identitas budaya maupun menyampaikan informasi yang keliru.
Gunakan Pendekatan 5M dalam Penulisan Pariwisata
Dalam pemaparannya, Gatot memperkenalkan pendekatan 5M sebagai salah satu cara membangun cerita pariwisata yang lebih kuat dan melekat di benak publik.
Pendekatan tersebut meliputi manusia, makna, momen, masalah, dan masa depan.
Pertama, manusia, yakni menentukan siapa tokoh atau komunitas yang menjadi pusat cerita. Kehidupan warga, pelaku usaha lokal, penjaga tradisi, hingga kelompok masyarakat yang mengelola destinasi dapat menjadi bagian penting dari sebuah laporan.
Kedua, makna, yaitu menggali nilai lokal yang perlu dipahami pengunjung, bukan sekadar sesuatu yang dapat dilihat atau dinikmati.
Ketiga, momen, yakni mengangkat peristiwa, musim, tradisi, atau perubahan yang membuat sebuah cerita relevan untuk diberitakan.
Keempat, masalah, yaitu mengungkap tantangan nyata yang dihadapi destinasi, seperti akses transportasi, pengelolaan sampah, konservasi lingkungan, pengembangan ekonomi masyarakat, hingga pelestarian budaya.
Kelima, masa depan, yakni menjelaskan tindakan yang dapat dilakukan masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, dan wisatawan untuk mendukung pariwisata yang berkelanjutan.
Melalui pendekatan tersebut, Gatot berharap jurnalis dapat menghasilkan pemberitaan yang tidak berhenti pada informasi mengenai destinasi, tetapi juga memberikan pemahaman dan mendorong tindakan nyata.
Promosi Harus Sejalan dengan Realitas di Lapangan
Gatot juga mengingatkan bahwa promosi pariwisata harus sejalan dengan kondisi nyata di lapangan.
Menurutnya, pariwisata dapat tumbuh secara sehat apabila ekspektasi wisatawan sesuai dengan pengalaman yang mereka rasakan ketika berkunjung.
Informasi mengenai akses menuju destinasi, fasilitas, keamanan, pelayanan, budaya masyarakat, dan aturan setempat harus disampaikan secara akurat agar wisatawan memperoleh gambaran yang benar sebelum melakukan perjalanan.
Ia menegaskan, kepercayaan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun reputasi pariwisata. Apabila informasi yang disampaikan media tidak sesuai dengan kenyataan, kepercayaan publik dapat menurun.
Karena itu, jurnalis dituntut menjaga akurasi, melakukan verifikasi, menyajikan informasi secara berimbang, menghormati privasi, serta melakukan koreksi apabila ditemukan kekeliruan dalam pemberitaan.
Gatot juga menyoroti pentingnya media mengangkat isu-isu yang berkembang menjadi peluang untuk memperkenalkan potensi pariwisata daerah secara lebih luas.
Menurutnya, peristiwa yang mendapat perhatian publik dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan informasi positif, selama pemberitaan tetap berpegang pada fakta dan tidak mengabaikan aspek kemanusiaan.
Media Harus Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Viral
Dalam era digital, Gatot mengajak jurnalis untuk tidak hanya bergantung pada media konvensional, seperti surat kabar, radio, dan portal berita, tetapi juga memanfaatkan media sosial melalui berbagai format konten.
Satu kegiatan peliputan, misalnya, dapat dikembangkan menjadi berita utama, video pendek, cerita mendalam, podcast, maupun konten visual yang menggambarkan karakter geografis dan budaya suatu daerah.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pemberitaan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penonton, pembaca, atau tingkat viralitas konten.
Ada sejumlah aspek lain yang perlu diperhatikan, yakni kualitas informasi, keterlibatan publik, keterwakilan masyarakat lokal, manfaat bagi pelaku usaha, serta kemampuan media membantu meluruskan informasi yang keliru.
Keterlibatan masyarakat lokal dalam pemberitaan juga harus diperhatikan, termasuk memastikan persetujuan, memberikan kredit yang benar, dan menghadirkan suara warga secara proporsional.
Dengan cara itu, pemberitaan pariwisata tidak hanya memperluas jangkauan promosi, tetapi juga dapat membantu memperkenalkan produk lokal, membuka peluang ekonomi, dan mendorong perhatian terhadap persoalan yang membutuhkan tindak lanjut.
Narasi Pariwisata Harus Memberikan Manfaat Nyata
Gatot turut menekankan bahwa media memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan melalui pemberitaan yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat.
Ia mencontohkan pengalamannya menulis tentang Kabupaten Lamongan yang pada suatu masa lebih banyak dipandang sebagai daerah lintasan atau tempat transit perjalanan.
Melalui tulisan mengenai penataan wilayah dan potensi pengembangan destinasi, persoalan tersebut diangkat agar mendapat perhatian pemerintah daerah. Menurut Gatot, pemberitaan itu kemudian turut mendorong perhatian terhadap penataan sejumlah wilayah, termasuk pengembangan fasilitas penginapan dan tempat wisata.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa karya jurnalistik tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membantu membuka ruang diskusi dan mendorong perubahan kebijakan.
Dalam konteks pariwisata NTT, pendekatan serupa dapat diterapkan dengan mengangkat persoalan akses menuju destinasi, keterbatasan fasilitas, pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, serta peluang ekonomi yang dapat dikembangkan masyarakat setempat.
Pemberitaan yang baik harus mampu menjelaskan persoalan sekaligus memberikan gambaran mengenai langkah yang dapat ditempuh untuk memperbaikinya.
Pada akhirnya, Gatot berharap insan pers dapat berperan lebih jauh dalam membangun citra pariwisata NTT melalui cerita yang jujur, mendalam, dan menghormati nilai-nilai lokal.
Dengan kekayaan alam, keragaman budaya, serta keramahan masyarakat yang dimiliki, NTT mempunyai modal besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata yang berdaya saing.
Tantangannya adalah bagaimana media tidak hanya menceritakan keindahan NTT, tetapi juga menghadirkan manusia, budaya, dan kehidupan di balik keindahan itu, sehingga pariwisata benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. ***





