Suarantt.id, Kupang-Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah, menyampaikan keprihatinannya atas janji Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Falentinus Kebo, terkait pemberian beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi ribuan mahasiswa asal daerah tersebut.
Anita mengaku bingung dengan informasi bahwa Bupati TTU telah menjanjikan kuota KIP Kuliah bagi mahasiswa di daerahnya.
“Siapa yang menjanjikan kepada Bapak Bupati ya? Saya sendiri belum pernah bertemu beliau,” ujar Anita dengan nada heran usai pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) III Partai Demokrat NTT di Hotel Kristal Kupang pada Sabtu, 4 Oktober 2025.
Politisi Partai Demokrat itu menuturkan, dirinya terkejut ketika mengetahui ada sejumlah mahasiswa asal TTU yang sudah didaftarkan kuliah di STIKES Nusantara, dengan iming-iming akan mendapatkan beasiswa KIP Kuliah.
“Pak Bupati seharusnya jangan cepat-cepat berjanji ke masyarakat kalau belum tahu pasti,” tegasnya.
Menurut Anita, STIKES Nusantara memang pernah bersurat kepada Komisi X DPR RI untuk meminta tambahan kuota beasiswa KIP Kuliah. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
“Kampus itu memang pernah bersurat ke kami, tapi belum ada jawaban. Jadi tidak mungkin mereka bisa memberikan ribuan kuota beasiswa. Kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas,” jelasnya.
Anita menilai, janji yang disampaikan Bupati TTU terkesan tidak realistis dan justru dapat menimbulkan kekecewaan bagi mahasiswa serta orang tua yang sudah berharap banyak.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penyaluran KIP Kuliah tahun 2025 telah ditutup atau cut off per 30 September 2025. Artinya, data penerima beasiswa sudah ditarik oleh kementerian dan tidak bisa diubah lagi.
“Sekarang sudah cut off, jadi saya tidak bisa bantu banyak. Mungkin bisa diperbaiki satu dua kasus, tapi kalau sampai ribuan jelas tidak mungkin,” ujar Anita.
Meski demikian, Anita menyampaikan rasa prihatinnya terhadap 1.200 mahasiswa asal TTU yang disebut-sebut dijanjikan bantuan beasiswa tersebut.
“Saya turut berprihatin, kasihan anak-anak itu. Kalau saja saya diberitahu lebih awal, mungkin saya bisa bantu 100 atau 200 anak. Tapi sekarang sudah terlambat, apalagi programnya sudah ditutup,” tambahnya.
Anita berharap agar pemerintah daerah lebih berhati-hati dalam menyampaikan janji kepada masyarakat, terutama yang berkaitan dengan program bantuan pendidikan dari pemerintah pusat.
“Kasihan mahasiswa yang sudah terlanjur didaftarkan, tapi ternyata tidak bisa diproses karena programnya sudah ditutup. Jadi, jangan buat masyarakat kecewa,” pungkasnya. ***





