Suarantt.id, Kupang-Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Pintu Air terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi kerakyatan di Kota Kupang. Dengan capaian aset yang telah menembus Rp2,7 triliun secara nasional, koperasi ini dinilai semakin perkasa dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok nelayan, tani, ternak, dan buruh (RTTB).
Apresiasi tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi Kota Kupang, Daud Nafi, usai menghadiri kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Kantor KSP Kopdit Pintu Air Cabang Kupang pada Selasa (2/6/2026).
Menurut Daud, kehadiran Kopdit Pintu Air memberikan dampak nyata terhadap pergerakan ekonomi masyarakat kecil di Kota Kupang. Ia menyebut, koperasi ini tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi berbasis gotong royong.
“Pemerintah pada dasarnya sangat mengapresiasi kehadiran KSP Kopdit Pintu Air. Ini bagian dari upaya mendorong perekonomian masyarakat, khususnya RTTB, agar terus bergerak dan berkembang,” ujarnya.
Saat ini, Kopdit Pintu Air telah memiliki sekitar 14.500 anggota di Kota Kupang. Daud berharap jumlah tersebut terus meningkat sehingga manfaat koperasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Kami berharap tidak hanya berhenti di angka itu, tetapi bisa terus bertambah agar dampaknya semakin besar bagi masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Daud mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mendorong konsolidasi koperasi sehat dan aktif di Kota Kupang. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat peran koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat yang mampu memberikan dampak nyata.
“Tadi kami sudah berdiskusi dengan pengurus terkait konsolidasi koperasi. Ke depan, kami akan menghimpun koperasi-koperasi sehat untuk membicarakan bagaimana kehadiran koperasi benar-benar berdampak pada ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Koperasi Kota Kupang, terdapat sekitar 669 koperasi yang terdaftar. Namun hingga akhir Mei 2026, baru sekitar 44 koperasi yang telah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Dari jumlah tersebut, sekitar 200 koperasi tergolong aktif dan sehat.
Daud juga menyoroti tantangan yang dihadapi koperasi saat ini, yakni mulai berkurangnya semangat gotong royong di tengah masyarakat. Ia menilai, banyak anggota yang bergabung hanya untuk kebutuhan pinjaman tanpa komitmen menabung dan membangun koperasi.
“Banyak yang baru masuk dua bulan sudah ingin pinjam. Ketika pengembalian macet, koperasi akhirnya perlahan tidak berjalan baik,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Kopdit Pintu Air menjadi contoh koperasi yang mampu bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan. Dengan aset yang besar dan jangkauan anggota yang luas, koperasi ini dinilai berhasil memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau bicara aset Rp2,7 triliun, itu luar biasa. Pintu Air sudah memberi kontribusi besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif,” ujarnya.
Ia pun berharap koperasi yang tengah dikembangkan pemerintah, seperti Koperasi Merah Putih, dapat tumbuh dan berkembang mengikuti jejak Kopdit Pintu Air.
“Kami berharap koperasi-koperasi baru bisa belajar dari Pintu Air. Memang semua butuh proses, karena Pintu Air juga dibangun dalam waktu yang panjang,” pungkasnya. ***





