BI NTT Perkuat Kedaulatan Rupiah dan Dorong QRIS di Kawasan Perbatasan Indonesia-Timor Leste

oleh -97 Dilihat
Bank Indonesia NTT Perkuat Kedaulatan Rupiah dan Penggunaan QRIS di Kawasan Perbatasan Indonesia-Timor Leste. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat edukasi mengenai kewajiban penggunaan Rupiah sekaligus mendorong perluasan transaksi digital menggunakan QRIS di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026. Edukasi menyasar masyarakat di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), pada 13 Agustus 2026.

Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, melalui kegiatan tersebut menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk memastikan pemahaman masyarakat perbatasan terhadap Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah sekaligus simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kegiatan di PLBN Wini dibuka oleh Administrator PLBN Wini, Reynold Uran. Selanjutnya, Kepala Unit Implementasi Kebijakan SP dan Pengawasan SP PUR BI NTT, Teguh Ersada Natail Sitepu, menyampaikan edukasi mengenai kewajiban penggunaan Rupiah.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, setiap transaksi pembayaran yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib menggunakan Rupiah.

Edukasi ini dinilai penting, khususnya di kawasan perbatasan yang memiliki aktivitas perdagangan dan mobilitas masyarakat lintas negara. BI NTT bersinergi dengan PLBN Wini untuk memitigasi potensi penggunaan mata uang asing sekaligus meningkatkan literasi masyarakat mengenai Rupiah.

Selain memahami kewajiban penggunaan Rupiah, masyarakat juga diberikan pemahaman untuk menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan terhadap mata uang nasional sebagai salah satu simbol kedaulatan Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, Ardy Hendrow Daga dari Unit Implementasi PUR BI NTT turut memaparkan gerakan 5J dalam merawat Rupiah, yakni Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distapler, dan Jangan Dibasahi.

BACA JUGA:  Bukan Sekadar Bawa Bantuan! Wagub Johni Asadoma Tegaskan Pemerintah Harus Hadir di Tengah Masyarakat Alor

Masyarakat juga diberikan edukasi mengenai ciri-ciri keaslian uang Rupiah sebagai langkah pencegahan terhadap risiko peredaran uang palsu.

Pasar Tangkap Dolar Perkuat Penggunaan Rupiah

Penguatan kedaulatan Rupiah juga dilakukan melalui sinergi BI NTT bersama Pemerintah Kabupaten TTU, PLBN Napan, dan perbankan di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Salah satu implementasinya ditandai dengan peresmian Pasar Tangkap Dolar pada 14 Agustus 2026 oleh Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo.

Melalui Pasar Tangkap Dolar, masyarakat dari Distrik Oecusse, Republik Demokratik Timor-Leste, diarahkan untuk menukarkan mata uang asing terlebih dahulu melalui money changer berizin yang berada di kawasan PLBN Napan sebelum melakukan transaksi pembelian produk UMKM lokal.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong penggunaan Rupiah dalam aktivitas perdagangan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.

Keberadaan Pasar Tangkap Dolar juga diharapkan semakin memperkuat posisi Kabupaten TTU sebagai salah satu pusat perdagangan lintas batas sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produknya kepada masyarakat dari kedua negara.

BI Perluas QRIS di Perbatasan

Tidak hanya memperkuat penggunaan Rupiah secara tunai, BI NTT juga mendorong transformasi transaksi digital melalui perluasan akseptansi QRIS di kawasan perbatasan.

Dalam rangka Pekan QRIS Nasional 2026, masyarakat dan pelaku UMKM mendapatkan edukasi mengenai kemudahan melakukan transaksi nontunai menggunakan QRIS.

Pendaftaran QRIS dapat dilakukan melalui layanan perbankan, termasuk mobile banking, maupun aplikasi uang elektronik yang menyediakan layanan tersebut.

Penerapan QRIS telah mulai terlihat di Pasar Tangkap Dolar. Sejumlah pelaku UMKM, baik yang bergerak di sektor makanan dan minuman maupun kerajinan, telah menyediakan QRIS sebagai pilihan pembayaran bagi konsumen.

BI NTT berharap perluasan QRIS tidak hanya mempermudah transaksi masyarakat, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi digital di kawasan perbatasan.

BACA JUGA:  Jaga Lingkungan, BBWS NT II Laksanakan Program Bersih Sungai Perkotaan di Kali Dendeng

Dengan kombinasi edukasi kewajiban penggunaan Rupiah, penguatan perdagangan melalui Pasar Tangkap Dolar, serta perluasan QRIS, BI NTT berupaya menjadikan kawasan perbatasan sebagai ruang strategis untuk memperkuat kedaulatan Rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara inklusif dan digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.