BI NTT Gebrak Transformasi UMKM, LONTAR HIJAU 2026 Bidik Bisnis Ramah Lingkungan Berdaya Saing Global

oleh -40 Dilihat
BI NTT Gelar Bootcamp UMKM Hijau 2026 melalui Program LONTAR HIJAU. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendorong transformasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu menerapkan prinsip bisnis yang efisien, inovatif, ramah lingkungan, dan berdaya saing hingga pasar global.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembukaan Bootcamp UMKM Hijau 2026 bertajuk “LONTAR HIJAU NTT: Loncatan Transformasi, Akselerasi UMKM Hijau Provinsi Nusa Tenggara Timur” yang digelar di Kota Kupang pada 12–14 Agustus 2026.

Program ini merupakan kolaborasi BI NTT bersama Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT serta Dinas Koperasi dan UKM Kota Kupang. Kegiatan dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan praktis kepada pelaku UMKM dalam menerapkan model bisnis berkelanjutan.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Ari Setyo Wibowo, menegaskan bahwa penerapan prinsip ramah lingkungan bukan sekadar mengikuti perkembangan tren pasar. Menurutnya, transformasi hijau merupakan investasi strategis untuk memperkuat ketahanan dan daya saing UMKM dalam jangka panjang.

“Transformasi hijau bukanlah sebuah beban perubahan yang rumit, melainkan langkah cerdas yang dapat dimulai dari hal-hal sederhana dan terukur,” tegas Ari.

Ia menjelaskan, efisiensi penggunaan air dan energi, pemanfaatan bahan baku secara bertanggung jawab, perbaikan tata kelola ruang usaha hingga pengolahan kembali limbah produksi dapat membantu pelaku usaha menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi bisnis.

Dengan penerapan prinsip tersebut, UMKM diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki nilai tambah yang semakin kuat di tengah tuntutan konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi NTT menyambut positif program tersebut. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT, Linus Lusi, mengatakan penguatan kapasitas dan daya saing UMKM melalui praktik usaha yang efisien dan bersih merupakan tanggung jawab bersama.

BACA JUGA:  Angin Kencang Berpotensi Melanda Sejumlah Daerah di NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Menurutnya, keberhasilan transformasi UMKM membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, BI, kementerian/lembaga, dunia usaha, akademisi, komunitas, serta para pelaku UMKM.

“Kolaborasi erat antara Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, Kementerian/Lembaga, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan pelaku UMKM adalah pondasi kokoh dalam menghadirkan pendampingan yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha di NTT,” ujar Linus.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis, tetapi juga menjalani pelatihan praktis untuk menyusun rancangan bisnis berkelanjutan.

Materi yang diberikan antara lain terkait standar industri hijau, mulai dari manajemen bahan baku, efisiensi energi dan air, penggunaan kemasan ramah lingkungan hingga perhitungan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Peserta juga diarahkan menyusun Green Business Model Canvas dan Green Business Action Plan sebagai peta jalan transformasi bisnis yang realistis, bertahap, dan dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Menariknya, konsep ekonomi sirkular juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Para peserta diajak mengolah berbagai limbah seperti benang, perca kain tenun khas NTT, plastik dan kertas menjadi produk kerajinan kreatif bernilai ekonomi.

Pengolahan limbah tenun tersebut sekaligus menjadi upaya menggabungkan prinsip keberlanjutan dengan kearifan lokal. Identitas budaya NTT tetap dipertahankan, sementara limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki nilai jual.

Pelaksanaan LONTAR HIJAU NTT 2026 turut menggandeng Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian RI sebagai fasilitator utama.

Kolaborasi tersebut mencakup rangkaian pengembangan UMKM, mulai dari pelatihan dan pendampingan, pembukaan akses pembiayaan hijau atau green financing, hingga persiapan menuju sertifikasi industri hijau.

Melalui program ini, BI NTT dan pemerintah daerah berharap para peserta tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar menerapkan action plan yang telah disusun dalam operasional bisnis mereka.

BACA JUGA:  Penuhi Standar PMI Pusat, DPRD NTT Dorong Penguatan Sarana dan Layanan

Transformasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha, memperkuat kepercayaan konsumen, memperluas akses pasar dan membuka peluang pembiayaan yang lebih besar.

Pada akhirnya, LONTAR HIJAU NTT 2026 diharapkan menjadi salah satu langkah strategis untuk membawa UMKM NTT naik kelas dan semakin siap memenuhi standar keberlanjutan di tingkat nasional maupun internasional. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.