Dari Pantai ke Pundi Rezeki: Oesapa Barat Bangkit Lewat Wisata Pesisir dan UMKM

oleh -2669 Dilihat
Lurah Oesapa Barat dan Staf Pose Bersama para UMKM. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Di sepanjang pesisir Pantai Oesapa Barat, suara ombak kini berpadu dengan aroma kuliner laut yang menggugah selera. Kawasan yang dulu hanya dikenal sebagai kampung nelayan biasa itu, kini perlahan bertransformasi menjadi destinasi wisata baru yang menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

Lurah Oesapa Barat, Christian E. Chandra, menuturkan bahwa wilayah yang dipimpinnya memiliki potensi besar di sektor wisata pesisir, namun selama ini belum tergarap optimal. Pemerintah Kota Kupang kemudian melakukan penataan kawasan untuk membuka akses bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan laut dan pantai di sepanjang Oesapa Barat.

“Kelurahan Oesapa Barat punya potensi wisata pesisir, tapi belum menjadi kebanggaan masyarakat. Karena itu, pemerintah kota melakukan penataan kawasan agar pengunjung bisa lebih mudah menikmati wisata pantai,” ujar Christian.

Namun, menurutnya, keberadaan wisata pantai tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sektor lain seperti wisata kuliner dan UMKM lokal. Ia pun mengajak warga setempat untuk melihat peluang usaha di sekitar kawasan wisata.

“Kami mengajak masyarakat menyiapkan wisata kuliner di sekitar pantai, agar kebutuhan para pengunjung bisa terpenuhi dan masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi,” tambahnya.

Sinergi dengan Politeknik Kupang

Transformasi Oesapa Barat tidak terjadi begitu saja. Selama tiga tahun berturut-turut, Kelurahan Oesapa Barat mendapatkan pendampingan dari Politeknik Negeri Kupang melalui program pengabdian kepada masyarakat.

Pada tahun pertama, pemerintah kelurahan menyampaikan kebutuhan untuk mengembangkan potensi wisata pesisir dan memberdayakan UMKM di sekitar pantai. Menanggapi hal itu, tim dosen dan mahasiswa Politeknik Kupang menyiapkan berbagai fasilitas penunjang, termasuk 10 unit kontainer dagang yang kini menjadi pusat aktivitas ekonomi warga di Pantai Paradiso dan Pantai Muara Abu.

BACA JUGA:  Buka Open Tournament Futsal Givans Cup IV, Gubernur NTT Tekankan Sportivitas dan Integritas

“Dalam kontainer dagang itu sudah lengkap ada etalase, kursi, meja, lampu, alat masak, hingga peralatan dagang,” jelas Christian.

Tak hanya itu, pihak Politeknik juga memperkenalkan alat pembuat es batu inovatif karya jurusan teknik. Mesin ini mampu memproduksi sekitar 300 balok es dalam waktu 10 menit, dengan memanfaatkan campuran air, garam, dan energi listrik. Teknologi ini menjadi solusi bagi nelayan dan pedagang yang membutuhkan es dalam jumlah besar.

“Alat pembuat es ini benar-benar membantu masyarakat. Sampai sekarang masih beroperasi dan dijaga dengan baik oleh warga,” ujarnya bangga.

Wisata Gratis, Ekonomi Hidup

Keberadaan kontainer dagang dan fasilitas pendukung membuat kawasan wisata pesisir Oesapa Barat semakin ramai dikunjungi. Wisatawan tidak hanya datang menikmati pantai, tetapi juga berbelanja dan mencicipi kuliner khas pesisir.

Christian menegaskan bahwa kawasan wisata ini tidak dipungut biaya masuk maupun parkir, sehingga masyarakat luas bisa menikmati keindahan pantai dengan bebas.

“Masuk ke tempat wisata ini gratis, tidak ada karcis dan parkir berbayar. Tapi ekonomi warga tetap bergerak karena wisata kuliner dan UMKM hidup,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan tahun pertama kerja sama dengan Politeknik Kupang menjadi titik balik bagi Oesapa Barat. Kini, di tahun kedua dan ketiga, fokus pengembangan diarahkan untuk memperkuat pelaku usaha dan memperluas ragam kuliner lokal di kawasan pesisir.

Lahan Sempit, Kreativitas Tak Terbatas

Meski padat penduduk dan minim lahan pertanian, warga Oesapa Barat tak kehilangan semangat untuk berinovasi. Gereja GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat bahkan memanfaatkan halaman belakangnya sebagai kebun hortikultura.

Dengan sumur bor sebagai sumber air, kelompok jemaat mengelola lahan kecil untuk menanam sayur-mayur dan kebutuhan rumah tangga. Hasil panen sebagian dikonsumsi, sebagian lagi dijual untuk menambah pendapatan keluarga.

BACA JUGA:  Permudah Akses Adminduk Bagi Ibu Melahirkan, Dukcapil Kota Kupang Gandeng Rumah Sakit dan Puskesmas

“Kami bersyukur karena meski lahan terbatas, masyarakat tetap berkreasi. Semua ini demi mendukung ketahanan pangan,” tutup Christian.

Kini, Oesapa Barat menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dapat mengubah wajah sebuah wilayah. Dari pantai yang dulu sepi, kini tumbuh geliat ekonomi baru membuktikan bahwa dengan kolaborasi, pesisir pun bisa menjadi sumber kesejahteraan. (Penulis/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.