Suarantt.id, Mbay-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, melanjutkan rangkaian sosialisasi Peraturan Gubernur (Pergub) NTT Nomor 24 Tahun 2026 tentang Jam Belajar Masyarakat dengan menyapa para guru dan pelajar dari Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo. Kegiatan tersebut berlangsung di SMAK St. Clemens Boawae, Kabupaten Nagekeo pada Sabtu (4/7/26).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, Koordinator Pengawas wilayah Ngada–Nagekeo, para pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, serta ketua OSIS SMA dan SMK dari kedua kabupaten.
Dalam sambutannya, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Provinsi NTT terhadap pembangunan pendidikan di wilayah Ngada dan Nagekeo. Ia menilai kehadiran Gubernur menjadi penyemangat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk semakin memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kita memiliki misi yang sama, yakni meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Nagekeo dan Ngada. Pendidikan adalah aset jangka panjang dan harta yang paling berharga bagi generasi muda kita,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur menjelaskan bahwa Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Jam Belajar Masyarakat diterbitkan sebagai respons atas kondisi mutu pendidikan di NTT yang masih memerlukan pembenahan serius. Berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), NTT berada pada peringkat ke-36 dari 38 provinsi di Indonesia atau termasuk tiga terbawah secara nasional.
“Data ini menjadi alarm bagi kita semua. Kita memang memiliki sekolah-sekolah dan anak-anak yang berprestasi, tetapi itu belum mencerminkan kondisi pendidikan NTT secara keseluruhan. Masih ada persoalan besar yang harus kita selesaikan bersama,” tegas Gubernur.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya membaca, menulis, dan berhitung sebagai fondasi utama peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Ayo membaca, ayo menulis, ayo berhitung. Kita ingin semakin banyak anak-anak kita memperoleh pendidikan yang berkualitas, bukan sekadar menyelesaikan jenjang pendidikan,” ujarnya.
Menurut Gubernur, persoalan pendidikan tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperluas akses, tetapi harus diiringi dengan peningkatan kualitas proses belajar. Ia juga menekankan pentingnya pembenahan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kompetensi guru, penyediaan sarana dan prasarana, hingga keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam mendampingi anak belajar.
“Kalau kita jujur, hari ini guru-guru kita sebagian besar sudah bergelar sarjana. Tetapi kita juga harus terus meningkatkan kualitas pembelajaran agar ilmu yang diberikan benar-benar dipahami oleh peserta didik. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Melalui Pergub tersebut, Pemerintah Provinsi NTT menetapkan pelaksanaan Jam Belajar Masyarakat setiap pukul 18.00 hingga 19.30 WITA. Pada waktu tersebut, seluruh aktivitas yang tidak mendesak diharapkan dapat menyesuaikan, sehingga anak-anak memiliki ruang khusus untuk belajar bersama keluarga.
“Selama satu setengah jam itu, anak-anak harus memiliki waktu khusus untuk belajar. Orang tua mendampingi mereka, keluarga hadir bersama, dan masyarakat ikut menciptakan suasana yang kondusif. Inilah semangat Jam Belajar Masyarakat,” jelasnya.
Selain peningkatan kemampuan akademik, Gubernur juga menegaskan bahwa arah pembangunan pendidikan di NTT harus berfokus pada pembentukan karakter dan penguatan jiwa kewirausahaan. Ia berharap lulusan sekolah di NTT mampu menjadi pribadi yang berintegritas sekaligus memiliki kemampuan menciptakan peluang usaha.
“Pendidikan di NTT harus melahirkan anak-anak yang kuat secara akademik, berkarakter, dan memiliki semangat kewirausahaan sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya maupun orang lain,” ujarnya.
Dalam arahannya, Gubernur juga mengingatkan bahwa masih terdapat peserta didik yang telah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi, namun belum memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara memadai. Hal ini, menurutnya, menjadi bahan evaluasi bersama.
“Kalau anak-anak kurang berkembang, itu bukan salah mereka. Itu adalah tanggung jawab kita semua. Kita punya pekerjaan rumah besar untuk memperbaiki kualitas pendidikan di NTT,” tegasnya.
Sosialisasi berlangsung interaktif melalui sesi dialog bersama para ketua OSIS dan perwakilan siswa dari berbagai sekolah. Para siswa menyampaikan bahwa kemampuan membaca sudah cukup baik, namun kemampuan menulis dan memahami materi masih perlu ditingkatkan. Mereka juga menyoroti penggunaan telepon genggam yang berlebihan sebagai salah satu tantangan dalam membangun budaya literasi.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur mengapresiasi keterbukaan para pelajar dalam menyampaikan kondisi nyata di lapangan. Ia menilai masukan tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah dan dunia pendidikan dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Provinsi NTT berharap implementasi Pergub Nomor 24 Tahun 2026 tentang Jam Belajar Masyarakat tidak hanya menjadi kebijakan administratif, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat. Dengan kolaborasi tersebut, diharapkan budaya belajar semakin kuat, kualitas pendidikan meningkat, serta lahir generasi NTT yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.






