IDI NTT Bergerak Sejak 24 Jam Pertama Gempa Flores, Kirim Dokter Spesialis hingga Salurkan Bantuan

oleh -86 Dilihat
Ketua IDI Wilayah NTT, dr. Stefanus Soka, SpB, MKM Didampingi Koordinator Penanganan Bencana Gempa Flores sekaligus Seksi Pengabdian Masyarakat IDI Wilayah NTT, dr. Imelda Ora, M.Biomed, Sp.N, dan Wakil Ketua IDI NTT, dr. Syeben Hietingwati, MSi Med, SpPA Beri Keterangan Pers pada Jumat, 11 September 2026. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bergerak cepat sejak hari pertama gempa bumi Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026.

Tak menunggu situasi berlarut, IDI Wilayah NTT langsung menggelar rapat koordinasi pada sore hari yang sama untuk menentukan langkah penanganan medis bagi masyarakat terdampak.

Ketua IDI Wilayah NTT, dr. Stefanus Soka, SpB, MKM, mengatakan koordinasi melibatkan pengurus IDI serta berbagai perhimpunan dokter spesialis, termasuk dokter bedah, saraf, penyakit dalam, mata dan tulang.

Menurutnya, prioritas pertama IDI adalah memastikan tenaga medis spesialis segera berada di lokasi bencana karena gempa menyebabkan banyak kasus trauma yang membutuhkan penanganan cepat.

“Kami menugaskan lima dokter spesialis, yaitu dokter bedah tulang, dua dokter bedah umum, satu dokter spesialis emergency dan satu dokter spesialis anestesi,” jelas Stefanus didampingi Koordinator Penanganan Bencana Gempa Flores sekaligus Seksi Pengabdian Masyarakat IDI Wilayah NTT, dr. Imelda Ora, M.Biomed, Sp.N, dan Wakil Ketua IDI NTT, dr. Syeben Hietingwati, MSi Med, SpPA pada Jumat, 11 September 2026.

Kendala transportasi sempat menjadi tantangan pada awal pemberangkatan. Namun, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi, Dinas Kesehatan dan Puskesmas Kris, tenaga medis IDI berhasil diberangkatkan menuju wilayah terdampak.

Dua dokter bahkan berhasil berangkat lebih dahulu menuju Maumere dan langsung bergerak ke wilayah bencana pada malam hari.

“Dalam 24 jam kami dari IDI Wilayah NTT sudah berada di lokasi untuk memberikan pertolongan kasus-kasus trauma,” ungkapnya.

Pada hari berikutnya, tenaga dokter spesialis lainnya menyusul. Dokter spesialis emergency dan dokter bedah diarahkan ke Ruteng, sementara dokter spesialis bedah tulang diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Ende.

BACA JUGA:  Cuaca Ekstrem Mengancam NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Dengan langkah tersebut, dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gempa terjadi, IDI NTT telah mengerahkan dokter spesialis untuk memperkuat pelayanan medis bagi korban bencana.

Tak hanya pelayanan kesehatan, IDI NTT juga melakukan penggalangan dana untuk membantu masyarakat terdampak. Pada Senin setelah gempa, IDI langsung membuka posko bantuan di wilayah bencana, khususnya di Ruteng dan Nagekeo.

Stefanus menjelaskan, keberadaan posko tersebut penting karena persoalan dalam situasi bencana bukan hanya mengumpulkan bantuan, tetapi juga memastikan bantuan tersebut sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Dalam kondisi bencana ini salah satu kendala adalah bagaimana mendistribusikan. Bukan hanya bagaimana menyediakan bantuan, tetapi bagaimana mendistribusikan,” katanya.

Melalui posko tersebut, IDI NTT mendistribusikan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari obat-obatan, selimut, terpal, beras, sembako, susu bayi hingga genset.

Distribusi bantuan dilakukan bersama IDI cabang di daerah terdampak dan para relawan yang membantu memetakan lokasi serta kebutuhan masyarakat.

IDI NTT juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan penanganan darurat.

Gerakan kemanusiaan IDI NTT mendapat dukungan luas dari jaringan organisasi profesi dokter di berbagai daerah. Pengurus Besar IDI memberikan dukungan anggaran, disusul bantuan dari sejumlah IDI wilayah dan cabang, termasuk Jawa Timur, Bali, Lombok hingga Aceh Tamiang.

Stefanus mengaku terharu karena IDI Aceh Tamiang, yang juga baru menghadapi bencana banjir, tetap memberikan bantuan kepada masyarakat NTT sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian antardaerah.

Dukungan juga datang dari sejumlah perhimpunan dokter. Perhimpunan dokter mata, dokter saraf dan perhimpunan lainnya memberikan bantuan sekitar Rp250 juta dalam bentuk barang dan peralatan operasi.

Sementara itu, Yayasan Kita Bisa turut membantu memenuhi kebutuhan masyarakat melalui IDI NTT. Bantuan diberikan dalam bentuk barang sesuai kebutuhan di lapangan, termasuk obat-obatan dan kebutuhan logistik.

BACA JUGA:  Dari Nagekeo ke Manggarai, Langkah Gubernur Melki Tak Terhenti: Menyapa Warga di Tengah Luka Gempa Flores

Memasuki minggu kedua pascabencana, IDI NTT kembali memperkuat pelayanan kesehatan dengan mengirimkan tim berjumlah 20 orang untuk membantu pelayanan di Nagekeo. Tim tersebut terdiri dari tenaga medis dan perawat yang dikoordinasikan bersama Dinas Kesehatan.

IDI NTT juga merespons kondisi masyarakat Palue yang sempat terisolasi. Melalui IDI cabang Maumere, tim berhasil menembus wilayah tersebut menggunakan kapal untuk memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Kini, memasuki minggu keempat masa tanggap darurat, IDI NTT mulai mempersiapkan tahap pemulihan psikologis bagi korban gempa.

Dia mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Pramuka dan Rumah Sakit Umum Johanes Kupang untuk melaksanakan trauma healing.

Program tersebut dinilai penting karena dampak bencana tidak hanya berupa kerusakan fisik dan luka, tetapi juga dapat meninggalkan trauma psikologis bagi masyarakat, terutama anak-anak.

IDI NTT menggandeng Pramuka karena keterbatasan tenaga dokter jiwa dan psikolog, sementara wilayah terdampak cukup luas.

Pelatihan trauma healing bagi anggota Pramuka telah dilakukan pada 9 September 2026 dengan difasilitasi Diklat Rumah Sakit Yohanes bersama tenaga dokter jiwa.

Para anggota Pramuka kemudian akan dibekali kemampuan untuk melaksanakan kegiatan trauma healing dengan pendekatan kepramukaan yang bersifat menghibur, rekreatif dan membangun kembali semangat masyarakat.

IDI NTT menargetkan kegiatan trauma healing tersebut mulai berjalan paling lambat 12 September 2026 di sejumlah wilayah terdampak.

Stefanus menegaskan, IDI NTT sengaja tidak langsung menggelar publikasi besar-besaran pada awal bencana karena pihaknya ingin terlebih dahulu bergerak dan memastikan ada aksi nyata di lapangan.

Menurutnya, penyampaian informasi mengenai berbagai kegiatan IDI NTT saat ini juga menjadi bentuk penghargaan dan transparansi kepada para donatur serta pihak-pihak yang telah memberikan dukungan.

“Kami harus melakukan sesuatu dulu baru kami menginformasikan,” tegasnya.

BACA JUGA:  KSOP Kupang Gaspol! Puluhan Kapal Nelayan Oesapa Diukur Gratis, Pas Kecil Jadi Tiket Akses BBM Subsidi

Ia berharap seluruh dukungan yang telah diberikan berbagai pihak dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak gempa Flores dan membantu mempercepat proses pemulihan pascabencana. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.