Ketika Wakil Gubernur NTT Menyapa Anak-Anak Istimewa: “Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Bersinar”

oleh -624 Dilihat
Wagub NTT Pose Bersama Para Guru dan Anak-anak SLB Waikabubak. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Waikabubak-Suara tawa dan tepuk tangan riuh terdengar dari halaman Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) dan Sekolah Luar Biasa C (SLBC) Negeri Waikabubak pada Rabu (5/11/2025) pagi itu. Di antara deretan siswa dengan seragam rapi, tampak wajah-wajah polos yang bersinar penuh semangat, menyambut kedatangan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma.

Kunjungan kerja Wakil Gubernur kali ini bukan sekadar agenda formal. Ada sentuhan kemanusiaan dan ketulusan yang terasa sejak awal. Didampingi Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, Wakil Bupati Thimotius T. Ragga, dan sejumlah pejabat provinsi dan kabupaten, Johni Asadoma hadir untuk menyapa langsung para siswa yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental, namun memiliki semangat belajar yang tak terbatas.

Di bawah langit Waikabubak yang cerah, apel pagi digelar. Satu per satu anak-anak berbaris dengan tertib, sementara mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu. Dalam sambutannya, Johni Asadoma berbicara lembut namun penuh penegasan, memberi motivasi yang menembus hati siapa pun yang mendengarnya.

“Walaupun anak-anak kondisinya terbatas, mereka harus tetap optimistis dan semangat. Tuhan sudah menyiapkan hal lain yang lebih indah dibandingkan anak-anak lainnya,” ujar Johni dengan nada penuh empati. “Jika anak-anak semangat, pantang menyerah, rajin belajar dan berdoa, maka masa depan yang cerah akan terbuka lebar.”

Kata-katanya disambut tepuk tangan hangat dari para guru dan siswa. Bagi anak-anak di sekolah ini, motivasi itu lebih dari sekadar ucapan ia menjadi bahan bakar semangat untuk terus melangkah.

Tak berhenti di situ, Johni juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi di era digital. Menurutnya, keterbatasan fisik tidak boleh menjadi hambatan untuk berkarya dan berprestasi.

“Sekarang ini siapa pun bisa bekerja dari mana saja asalkan menguasai komputer. Karena itu anak-anak SLB harus mulai belajar teknologi agar bisa bersaing,” tambahnya.

Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian Pemerintah Provinsi NTT terhadap pendidikan inklusif. Ia berjanji, meskipun SLBN merupakan kewenangan provinsi, pemerintah kabupaten akan tetap mendukung peningkatan fasilitas pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Kami akan berupaya membantu penyediaan unit komputer dan memperhatikan kondisi asrama yang masih kurang memadai. Anak-anak ini juga bagian dari masa depan Sumba Barat,” ungkap Bupati.

Kunjungan itu semakin hidup ketika para siswa menampilkan beragam bakat mereka — dari pembacaan puisi, fashion show sederhana, hingga lagu-lagu yang dinyanyikan dengan penuh perasaan. Di balik keterbatasan mereka, tersimpan talenta dan kegigihan luar biasa yang menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikan.

BACA JUGA:  IPACS 2025 Kupang Jadi Simfoni Persahabatan Budaya Indonesia dan Negara-Negara Pasifik

Usai apel dan penampilan siswa, Johni Asadoma bersama rombongan meninjau ruang kelas, laboratorium, dan asrama. Di beberapa titik, tampak fasilitas sekolah yang sudah rusak dan perlu perbaikan. Johni segera meminta pihak sekolah untuk mendata kerusakan dan melaporkannya agar segera ditindaklanjuti pemerintah provinsi.

“Anak-anak ini berhak mendapat lingkungan belajar yang layak. Kita harus pastikan itu,” tegasnya.

Kunjungan hari itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi para siswa, guru, dan masyarakat setempat, kehadiran Wakil Gubernur membawa makna yang dalam — bahwa mereka tidak sendiri, dan bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki cahaya yang bisa bersinar.

Dan dari SLB Waikabubak, pesan itu bergema kuat: keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi dan berprestasi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.