Kolaborasi Ditjenpas NTT dan PT SMJ, Lahan Tandus Disulap Jadi Kebun Produktif

oleh -127 Dilihat
Anggota DPD-RI, Danrem161 Wirasakti Kupang, Ketua DPRD NTT, Bupati Kupang dan Sekda Kota Kupang Hadiri Kegiatan Panen Raya Jagung di Kebun SAE (Sarana Asimilasi dan Edukasi) Lapas Kelas IIA Kupang pada Jumat, 22 Mei 2026. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama PT SMJ berhasil menyulap lahan tandus menjadi kebun produktif melalui kegiatan Panen Raya Jagung di Kebun SAE (Sarana Asimilasi dan Edukasi) Lapas Kelas IIA Kupang pada Jumat (22/05/2026).

Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dan pihak swasta dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Panen raya tersebut dihadiri oleh berbagai unsur penting, di antaranya Anggota DPD RI Perwakilan NTT, Ketua DPRD Provinsi NTT, Bupati Kupang, jajaran Forkopimda Provinsi NTT dan Kota Kupang, Kakanwil Ditjen Imigrasi NTT, pimpinan instansi pemerintah daerah, hingga perwakilan sektor swasta dan akademisi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan dari Direktur PT SMJ mengenai proses pengolahan lahan, metode penanaman, hingga teknik pemeliharaan tanaman jagung. Setelah itu, para tamu undangan mengikuti panen jagung secara simbolis di lahan SAE Lapas Kupang.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kolaborasi yang mampu mengubah lahan karang seluas sekitar 2,5 hektar menjadi lahan pertanian produktif. Dari 28 kilogram benih jagung yang ditanam, berhasil dipanen sekitar 10 ton jagung.

“Ini bukan sekadar hasil panen, tetapi juga bagian dari upaya membangun kemandirian pangan dan pembinaan bagi warga binaan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh proses pengelolaan kebun dilakukan langsung oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP) sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian. Melalui kegiatan tersebut, para WBP dibekali keterampilan pertanian, kedisiplinan, serta pengalaman kerja yang dapat menjadi bekal saat kembali ke masyarakat.

“Pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani hukuman, tetapi bagaimana membina dan mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali menjadi pribadi yang mandiri dan produktif,” tambahnya.

Apresiasi juga disampaikan Anggota DPD RI Perwakilan NTT, Abraham Lianto, yang menilai program ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di NTT dalam memanfaatkan lahan tidur, khususnya dengan karakter tanah berbatu.

Menurutnya, di tengah tantangan perubahan iklim seperti El Nino dan kondisi geopolitik global yang memengaruhi harga pangan, jagung dapat menjadi alternatif sumber pangan yang strategis.

Sementara itu, Direktur Utama PT SMJ, Silvester Sudin, menyampaikan bahwa kerja sama dalam Program SAE merupakan implementasi prinsip 5P yang diusung perusahaan, yakni pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan, dan profil.

“Program ini tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses pembinaan yang berkelanjutan agar warga binaan memiliki keterampilan yang bermanfaat,” jelasnya.

Keberhasilan panen raya ini menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan dari sisi keamanan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan kualitas sumber daya manusia. Melalui kolaborasi lintas sektor, program ketahanan pangan diharapkan dapat terus berlanjut sekaligus memberikan harapan baru bagi warga binaan untuk hidup mandiri setelah bebas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.