Suarantt.id, Kupang-Peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan tren positif. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV mencatat capaian akreditasi program studi dan perguruan tinggi yang semakin membaik, sekaligus menyiapkan 10 perguruan tinggi swasta (PTS) menuju status unggul pada tahun 2030.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka mengungkapkan, saat ini terdapat 4 program studi yang telah meraih akreditasi unggul, 1 program studi terakreditasi A, 22 program studi terakreditasi B, 179 program studi dengan akreditasi baik, serta 105 program studi dengan akreditasi baik sekali.
Sementara itu, untuk akreditasi perguruan tinggi, terdapat 7 PTS dengan akreditasi B, 37 PTS dengan akreditasi baik, 6 PTS dengan akreditasi baik sekali, serta 4 PTS yang masih berstatus sementara terakreditasi.
“Ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tinggi di NTT terus mengalami peningkatan secara bertahap,” ujar Prof. Adrianus kepada wartawan pada Senin, 30 Maret 2026.
Ia menambahkan, LLDIKTI Wilayah XV saat ini tengah memfasilitasi 10 PTS yang diproyeksikan untuk mencapai status perguruan tinggi unggul pada tahun 2030. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program peningkatan mutu, penguatan tata kelola, serta pengembangan sumber daya manusia.
Di sisi lain, dukungan terhadap penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2025, total anggaran penelitian dan pengabdian di lingkungan PTS LLDIKTI Wilayah XV meningkat sebesar 78,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Rincian anggaran tersebut meliputi penelitian batch 1 sebesar Rp11,3 miliar, pengabdian batch 1 sebesar Rp2,1 miliar, penelitian batch 2 sebesar Rp148,9 juta, pengabdian batch 2 sebesar Rp210,7 juta, hilirisasi/prototipe Rp185,1 juta, program Kosa Bangsa Rp1,5 miliar, Badan Eksekutif Rp238 juta, serta pengabdian batch 3 sebesar Rp498,3 juta.
Lebih lanjut, Adrianus menjelaskan bahwa penguatan pendidikan tinggi di NTT juga didorong melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini sejalan dengan hasil pertemuan antara LLDIKTI Wilayah XV dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 10 Maret 2026.
Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan Konsorsium Trilateral Indonesia Timur melalui nota kesepahaman antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Pemerintah Provinsi NTT.
“Sinergi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah,” jelasnya.
Kerja sama tersebut difokuskan pada pengurangan kesenjangan akses pendidikan tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan solusi berbasis riset dan inovasi.
Berbagai program yang dijalankan juga diarahkan untuk menjawab isu-isu strategis daerah, seperti penanganan stunting, kemiskinan ekstrem, hingga peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Langkah ini merupakan bagian dari kontribusi pendidikan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah serta menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
“Perguruan tinggi harus hadir memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui riset dan inovasi. Ini menjadi komitmen kami dalam mendorong pendidikan tinggi yang inklusif dan berdampak,” tegasnya.
Dengan berbagai strategi tersebut, LLDIKTI Wilayah XV optimistis target 10 PTS unggul di NTT pada 2030 dapat tercapai, sekaligus memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai motor penggerak pembangunan daerah.
Dengan adanya kolaborasi ini, perguruan tinggi diharapkan dapat semakin berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. ***





