42 SPPG Layani 107 Ribu Warga, Kota Kupang Jadi Model Nasional Program Makan Bergizi Gratis

oleh -5 Dilihat

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Kota Kupang terus memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 42 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi dan melayani sekitar 107 ribu penerima manfaat di seluruh wilayah Kota Kupang.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga pada penguatan sistem pengawasan dan kualitas layanan. Untuk itu, Pemerintah Kota Kupang telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) MBG hingga tingkat kecamatan.

“Satgas ini akan memastikan quality control berjalan dengan baik, mulai dari kualitas makanan, kondisi dapur, pengelolaan limbah, hingga kelengkapan sertifikasi dan standar higiene sanitasi. Ini penting agar pelaksanaan MBG benar-benar aman, sehat, dan berkualitas,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa seluruh SPPG harus terus meningkatkan standar pelayanan, mulai dari tata kelola, kualitas makanan, sanitasi, hingga sistem monitoring dan evaluasi agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.

Menurut Wali Kota, Program Makan Bergizi Gratis tidak boleh dipandang semata sebagai bantuan pangan, melainkan sebagai investasi strategis dalam menyiapkan generasi emas Indonesia.

“Kita tidak hanya memberi makan, tetapi sedang menyiapkan masa depan. Kita tidak hanya berbicara tentang perut yang kenyang, tetapi sedang berinvestasi bagi generasi emas penerus bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pembangunan manusia yang dimulai sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan. Karena itu, perhatian terhadap ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan anak-anak menjadi bagian krusial dalam keberhasilan program tersebut.

Wali Kota turut menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap layanan di Posyandu. Menurutnya, meskipun sekolah-sekolah sebagian besar telah terlayani dengan baik, kelompok sasaran di Posyandu masih membutuhkan penguatan agar upaya pencegahan stunting dapat berjalan maksimal.

BACA JUGA:  DPRD NTT Ingatkan Ombudsman Tak Gegabah Respon Aduan Warga soal Pungutan Sekolah

“Kelompok ini sangat menentukan keberhasilan pencegahan stunting dan kualitas generasi mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong agar model koordinasi dan pengawasan MBG yang diterapkan di Kota Kupang dapat menjadi rujukan bagi kabupaten/kota lain di NTT.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Satgas MBG Tingkat Kota Kupang yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Jumat (26/6/2026).

Menurut Gubernur, langkah Pemerintah Kota Kupang dalam membentuk Satgas hingga tingkat kecamatan, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta membangun rantai pasok yang melibatkan petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha lokal merupakan praktik baik yang layak direplikasi.

“Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi harus menjadi contoh dan inspirasi bagi daerah lain dalam penyelenggaraan MBG,” tegasnya.

Ia juga menilai bahwa program MBG memiliki dampak ekonomi yang besar karena mampu membuka peluang pasar bagi berbagai sektor produktif di daerah. Oleh karena itu, ia mendorong agar kebutuhan bahan baku program semakin mengutamakan produk lokal NTT.

“Program ini harus menjadi penggerak ekonomi rakyat. Produk-produk lokal harus menjadi pilihan utama agar manfaatnya dirasakan secara luas,” ujarnya.

Selain itu, Gubernur menekankan pentingnya pelaksanaan program yang terukur untuk menekan angka stunting dan malnutrisi, terutama melalui pemetaan kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan anak-anak.

Dia menegaskan bahwa keberhasilan MBG ke depan tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menutup arahannya, Gubernur menyebut Kota Kupang memiliki posisi strategis sebagai etalase pembangunan NTT. Karena itu, keberhasilan pelaksanaan MBG di kota ini diharapkan dapat menjadi model yang menginspirasi seluruh daerah di Nusa Tenggara Timur.

BACA JUGA:  Pemkot Kupang Serah Terima 30 Unit Rumah Layak Huni bagi MBR dan Korban Bencana

“Jika Kota Kupang berhasil membangun sistem MBG yang kuat dan berdampak nyata, maka daerah lain akan lebih mudah mengikuti,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.