Menuju Lumbung Jagung Nasional, Gubernur Melki Tekankan Sinergi Petani, Pemerintah dan Swasta

oleh -642 Dilihat
Gubernur NTT Panen Jagung di Kabupaten Kupang pada Rabu, 1 April 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa sinergi antara petani, pemerintah, dan sektor swasta menjadi kunci utama dalam mewujudkan NTT sebagai lumbung jagung nasional sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri kegiatan Panen Simbolis Pilot Project Jagung dalam ekosistem jagung gotong royong Tani Optima Group bertema “Menuju NTT Lumbung Jagung Nasional”, yang berlangsung di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang pada Rabu (1/4/2026).

Menurut Gubernur Melki, kolaborasi lintas sektor terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Ia menilai pendekatan gotong royong yang melibatkan berbagai pihak harus terus dikembangkan dan diperluas ke wilayah lain di NTT.

“Program seperti ini harus terus dikembangkan dan direplikasi. Gotong royong antara petani, pemerintah, dan swasta menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program swasembada jagung, sekaligus bentuk apresiasi atas keberhasilan pilot project yang telah berjalan selama 5-6 bulan di sejumlah wilayah di NTT.

Direktur Tani Optima Group, Ferdy Purnama, menjelaskan bahwa program ekosistem jagung ini mengadopsi pola kerja yang telah berhasil diterapkan di Pulau Jawa, serta diperkuat dengan sistem kontrol terintegrasi berbasis teknologi yang mampu menyajikan data secara real time.

Ia menyebutkan, hasil implementasi program menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan, dari sebelumnya rata-rata 1,5-2 ton per hektare menjadi 5-6 ton per hektare.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Melki mengaku optimistis terhadap potensi besar pengembangan jagung di NTT. Dengan luas lahan kering mencapai sekitar 3,5 juta hektare dan peluang tanam hingga dua kali dalam setahun, ia menilai NTT memiliki peluang besar menjadi sentra produksi jagung nasional.

BACA JUGA:  Pemprov NTT Perkuat Transformasi Ekonomi, Pariwisata, dan SDM Lewat Dasa Cita

“Kalau kita kerja gotong royong seperti ini, hasilnya pasti lebih baik. Sinergi semua pihak akan menghasilkan peningkatan yang berlipat,” tegasnya.

Selain peningkatan produksi, Gubernur juga menekankan pentingnya hilirisasi produk jagung agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Ia mendorong agar jagung tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk turunan dengan dukungan pelatihan dan akses pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank NTT.

Salah satu petani, Ornolus Kila Sadukh, mengungkapkan bahwa program tersebut telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan hasil panen dan pendapatan petani.

“Sekarang hasilnya jauh lebih baik. Kami juga bisa mendapatkan pendapatan sekitar Rp4 juta per bulan. Kami sangat bersyukur dengan program ini,” ungkapnya.

Meski demikian, ia berharap adanya dukungan pemerintah dalam mengatasi keterbatasan sumber air, terutama menjelang musim tanam kedua.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, jajaran OPD, perbankan, pelaku usaha, penyuluh pertanian, serta para petani. Acara ditutup dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Tani Optima Group dan Bank NTT, serta penyerahan pembayaran hasil panen kepada kelompok tani. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.