NTT Gaungkan Perdamaian Lewat Festival Persahabatan Internasional 2026 di Tapal Batas

oleh -68 Dilihat
Wagub NTT Hadiri Pembukaan Resmi Friendship Dinner Festival Persahabatan Internasional 2026 di Kota Atambua. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Atambua-Suasana hangat dan penuh persaudaraan mewarnai Aula Betelalenok, Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu1 Juli 2026 malam. Momentum tersebut menandai pembukaan resmi Friendship Dinner sebagai rangkaian awal Festival Persahabatan Internasional 2026 yang akan berlangsung di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.

Kegiatan ini mempertemukan tokoh lintas agama, unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga delegasi internasional dari Kanada. Festival yang akan digelar selama empat hari, 2-5 Juli 2026 di Lapangan Umum Atambua ini mengusung tema besar persahabatan, perdamaian, dan kesembuhan rohani bagi dunia.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas keberhasilan Kabupaten Belu yang dinilai mampu menghadirkan event berskala internasional secara beruntun dan berdampak langsung bagi masyarakat.

“Walaupun kita berada di perbatasan, kita membuktikan tidak kehilangan kreativitas, inovasi, serta semangat. Ini adalah capaian luar biasa,” ujar Johni.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berdimensi seremonial, tetapi membawa dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM lokal yang dilibatkan dalam festival.

Sementara itu, Bupati Belu Willybrodus Lay menyebut penyelenggaraan festival ini sebagai bentuk kehendak baik yang lahir dari nilai-nilai kebersamaan masyarakat perbatasan. Ia menilai, pemilihan Atambua sebagai tuan rumah bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari makna filosofis “Belu” yang berarti sahabat.

“Ini adalah kehormatan besar bagi Kabupaten Belu. Nama Belu sendiri berarti teman atau sahabat,” ungkapnya.

Dari pihak panitia, Ketua Pelaksana Vincensius B. Loe menegaskan bahwa festival ini lahir dari kolaborasi spiritual dan sosial antara masyarakat lokal dengan tim pelayanan internasional dari Kanada yang dipimpin oleh pengkhotbah Anthony Greco. Tema yang diusung adalah Kesembuhan Ilahi bagi Semua Orang.

BACA JUGA:  Keterbatasan Anggaran, Gubernur NTT Dorong Skema Gotong Royong Bangun Infrastruktur Desa

Dukungan juga datang dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Belu. Ketua MUI Belu, Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Belu, Abdullah Belajam, menegaskan bahwa perbatasan Belu kini telah menjadi laboratorium toleransi yang memperlihatkan harmoni antarumat beragama di Indonesia.

Dari sisi refleksi kebangsaan, Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Pendeta Gomar Gultom, menyoroti pentingnya mengembalikan makna persahabatan sejati di tengah derasnya arus digitalisasi yang cenderung membuat relasi sosial menjadi lebih transaksional.

“Persahabatan harus kembali menjadi fondasi kehidupan bersama, bukan sekadar interaksi digital,” tegasnya.

Festival ini diperkirakan akan dihadiri 8.000 hingga 10.000 peserta setiap harinya, serta melibatkan sekitar 100 pelaku UMKM lokal dalam festival kuliner khas Belu. Selain kegiatan ibadah dan seminar spiritual, agenda ini juga menjadi ruang pertemuan budaya, ekonomi, dan kemanusiaan lintas negara.

Acara Friendship Dinner kemudian ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama seluruh delegasi, menegaskan komitmen bersama menjadikan Atambua sebagai simbol perdamaian dari wilayah perbatasan untuk dunia.

Dengan terselenggaranya festival ini, NTT kembali menegaskan perannya sebagai ruang perjumpaan global yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, toleransi, dan perdamaian lintas bangsa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.