Suarantt.id, Oelamasi-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mencatatkan capaian membanggakan di sektor pertanian. Pada 2025, NTT masuk dalam lima besar provinsi penerima penghargaan swasembada pangan dari pemerintah pusat, seiring lonjakan produksi padi yang signifikan dalam dua tahun terakhir.
Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, TNI-Polri, perguruan tinggi, serta seluruh pemangku kepentingan di daerah.
“Capaian ini bukan kerja satu pihak. Ini kerja bersama dari hulu sampai hilir. Kita ingin memastikan NTT tidak hanya swasembada, tetapi juga berkelanjutan,” ujar Melki saat memimpin Gerakan Tanam (Gertam) Padi Serentak di Desa Manusak, Kabupaten Kupang pada Senin (16/2/2026).
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mencatat, produksi padi pada 2025 mencapai sekitar 960 ribu ton gabah kering panen (GKP), meningkat sekitar 260 ribu ton atau 36 persen dibandingkan 2024. Sementara produksi beras mencapai lebih dari 567 ribu ton, mendekati bahkan melampaui kebutuhan konsumsi beras masyarakat NTT yang berada di kisaran 620–650 ribu ton per tahun.
Melki menekankan, salah satu kunci peningkatan produksi adalah penguatan mekanisasi pertanian. Dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari Kementerian Pertanian dinilai sangat membantu percepatan tanam dan panen, sekaligus menekan biaya produksi petani.
“Kita perkuat Brigade Alsintan agar petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pola tradisional. Dengan mekanisasi, tanam bisa lebih cepat, panen lebih efisien, dan produktivitas meningkat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi lahan, termasuk lahan non-rawa dan lahan kering yang potensinya di NTT mencapai sekitar 1,8 juta hektare. Pemerintah provinsi menargetkan luas tanam 273.800 hektare pada 2026 atau meningkat hampir 8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan target produksi mencapai 1.156.456 ton GKP atau setara sekitar 694 ribu ton beras.
Menurut Melki, penguatan sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting di NTT. Sektor pertanian, khususnya komoditas padi dan jagung, dinilai sebagai pengungkit utama ekonomi daerah.
Selain penyerahan bantuan alsintan kepada kelompok tani, kegiatan Gertam Padi Serentak juga dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada tiga kabupaten dengan kontribusi produksi padi tertinggi tahun 2025, yakni Manggarai Barat, Kabupaten Kupang, dan Sumba Timur.
Pemerintah provinsi juga menandatangani komitmen bersama dengan para kepala daerah untuk mempertahankan dan memperkuat swasembada pangan secara berkelanjutan. Melki mengajak seluruh masyarakat menjadikan kegiatan menanam sebagai budaya bersama.
“Kalau kita ingin Indonesia kuat, daerah harus kuat. Dan kekuatan itu dimulai dari pangan. Kita tanam, kita panen, kita olah, dan kita tingkatkan nilai tambahnya untuk kesejahteraan rakyat,” pungkasnya. ***






