Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Kota Kupang menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 342 mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di Kota Kupang dan keluarganya terdampak gempa bumi.
Bantuan tersebut diserahkan di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Jumat (25/9), sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kota Kupang terhadap mahasiswa yang menghadapi dampak ekonomi akibat bencana yang melanda wilayah Flores.
Penyerahan bantuan mewakili Pemerintah Kota Kupang dilakukan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega didampingi Plt. Kepala Bappeda Kota Kupang, Wildrian Ronald Otta serta Manajemen PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Cabang Kupang, Inang Indramayu.
Program bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Kupang melalui Bappeda, PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Cabang Kupang, dan organisasi kepemudaan mahasiswa NTT.
Kegiatan diawali dengan pemutaran video pesan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, yang berhalangan hadir secara langsung.
Dalam pesannya, Christian menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir sekaligus menegaskan kepedulian Pemerintah Kota Kupang terhadap mahasiswa yang keluarganya terdampak gempa.
“Mohon maaf saya tidak bisa hadir di acara penyerahan bantuan, tapi hati saya bersama adik-adik sekalian,” ujar Christian.
Menurutnya, bencana yang dialami keluarga mahasiswa di Flores dapat berdampak terhadap kondisi ekonomi dan dukungan biaya pendidikan bagi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Kota Kupang.
“Mungkin adik-adik terhambat kiriman dari orang tua. Semoga sedikit bantuan ini bisa membantu adik-adik,” katanya.
Christian berharap bantuan tersebut dapat meringankan kebutuhan sehari-hari para mahasiswa sekaligus membantu mereka tetap fokus menyelesaikan pendidikan di tengah kondisi keluarga yang terdampak bencana.
Mewakili Wali Kota, Ignasius Repelita Lega mengatakan bantuan yang diberikan mungkin belum dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi mahasiswa dan keluarga mereka.
Namun, ia menegaskan bahwa bantuan tersebut memiliki makna sebagai bentuk kepedulian kepada mahasiswa yang berada jauh dari daerah asal tetapi ikut merasakan dampak bencana.
“Lebih dari itu, terimalah bantuan ini sebagai tanda bahwa ada banyak orang yang peduli terhadap kalian,” ujar Ignasius.
Ia menambahkan, kepedulian merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik maupun pengelolaan anggaran, tetapi juga bagaimana pemerintah dan masyarakat membangun kepedulian terhadap sesama.
“Pembangunan bukan hanya soal membangun gedung atau mengelola angka-angka dalam anggaran, tetapi pembangunan juga berarti membangun kepedulian,” katanya.
Ignasius turut menyampaikan apresiasi kepada Bappeda Kota Kupang, PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Cabang Kupang, serta organisasi kepemudaan mahasiswa NTT yang telah terlibat dalam proses pendataan hingga penyaluran bantuan.
Sementara itu, Plt. Kepala Bappeda Kota Kupang, Wildrian Ronald Otta, menjelaskan bahwa program bantuan tersebut dilaksanakan berdasarkan arahan Wali Kota Kupang.
Pendataan penerima manfaat dilakukan bersama enam organisasi kepemudaan mahasiswa, yakni PMKRI, GMNI, GMKI, HMI, PMII, dan IMM.
Dari hasil pendataan tersebut, sebanyak 342 mahasiswa ditetapkan sebagai penerima bantuan kemanusiaan karena keluarga mereka terdampak gempa di Flores.
Wildrian menjelaskan, bantuan merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kota Kupang dan PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Cabang Kupang. Alfamart memberikan dukungan berupa paket bantuan, sementara Pemerintah Kota Kupang melengkapi kebutuhan lainnya untuk menunjang kebutuhan mahasiswa sehari-hari.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana tetap mendapatkan perhatian dan dukungan selama menjalani pendidikan di Kota Kupang.
Pemerintah Kota Kupang berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban mahasiswa dan keluarganya, sekaligus menjaga semangat mereka untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan meskipun menghadapi situasi sulit akibat bencana.







