Perbatasan NTT-Timor Leste Siap Disulap Jadi Kawasan Perdagangan Bebas

oleh -354 Dilihat
Gubernur Melki jadi Narasumber dalam Kegiatan Undana Talk. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mematangkan rencana pembentukan Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Perdagangan Bebas di wilayah perbatasan NTT dan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL). Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa kawasan perbatasan akan diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menjadi narasumber dalam kegiatan Undana Talk yang diselenggarakan Universitas Nusa Cendana bekerja sama dengan Pos Kupang di Studio Podcast Pos Kupang, Rabu (29/7/2026). Diskusi tersebut mengangkat tema tentang potensi FTZ dalam mendorong kesejahteraan masyarakat NTT.

Menurut Gubernur Melki, posisi strategis NTT yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan secara optimal. Ia menilai kawasan lintas batas memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara terarah dan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi NTT, lanjutnya, saat ini tengah fokus pada berbagai persiapan teknis menuju pembentukan FTZ. Langkah tersebut meliputi penyusunan pra-studi kelayakan, pengumpulan data dasar, penentuan batas kawasan, penyusunan model ekonomi, hingga identifikasi kebutuhan infrastruktur. Selain itu, koordinasi juga terus dilakukan dengan pemerintah kabupaten di wilayah perbatasan, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta pemerintah pusat.

“Kami tidak ingin tergesa-gesa tanpa dasar yang kuat, tetapi juga tidak ingin berhenti pada wacana,” tegasnya.

Gubernur Melki juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Pemerintah Timor-Leste berjalan positif. Dukungan dari negara tetangga tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan kawasan perdagangan bebas yang saling menguntungkan.

Selain aspek regulasi dan infrastruktur, kesiapan masyarakat menjadi perhatian utama. Pemerintah terus mendorong edukasi kepada masyarakat agar mampu beradaptasi dengan perubahan skala ekonomi serta memenuhi standar perdagangan internasional.

Lebih lanjut, Gubernur menegaskan bahwa FTZ bukan sekadar membuka arus keluar-masuk barang antarnegara, melainkan menjadi strategi transformasi ekonomi daerah. Kawasan perbatasan diharapkan tidak lagi dipandang sebagai wilayah belakang, tetapi menjadi beranda depan Indonesia sekaligus pusat aktivitas ekonomi baru.

Ia juga mendorong pengolahan komoditas unggulan daerah seperti sapi, kopi, jambu mete, rumput laut, dan tenun agar memiliki nilai tambah. Dengan demikian, FTZ diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Menutup penyampaiannya, Gubernur Melki mengajak pelaku usaha, koperasi, dan UMKM di NTT untuk mulai mempersiapkan diri menyambut kehadiran FTZ. Ia menekankan bahwa masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama dalam aktivitas ekonomi yang akan berkembang di kawasan tersebut.

“Pastikan bahwa tuan rumah di kawasan ini adalah pengusaha dan pelaku UMKM NTT sendiri,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.