Prosesi Jalan Salib GMIT Kupang Jadi Ruang Refleksi Iman di Tengah Arus Digital

oleh -820 Dilihat
Wali Kota Kupang Pose Bersama Panitia dan Peserta Prosesi Jalan Salib Ke-X Pemuda GMIT Kota Kupang di Taman Nostalgia Kota Kupang pada Kamis, 2 April 2026. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Prosesi Jalan Salib Ke-X yang diselenggarakan oleh Pemuda GMIT Klasis Kota Kupang menjadi momentum penting bagi umat untuk merefleksikan iman di tengah derasnya arus informasi dan dominasi media sosial. Kegiatan ini secara resmi dilepas oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, di Taman Nostalgia Kupang, Kamis (2/4/2026).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh gereja dan pemerintah, di antaranya pemimpin ibadah Pdt. Frans A. Dillak, Ketua Majelis Klasis GMIT Kota Kupang Pdt. Delviana K. Poych Snae, Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry E. Pelt, para pendeta se-Klasis Kota Kupang, serta ratusan pemuda GMIT yang ambil bagian dalam prosesi tersebut.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan apresiasi tinggi kepada para pemuda GMIT yang telah bekerja keras mempersiapkan kegiatan tersebut.

Ia menilai prosesi Jalan Salib bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang sarat makna.
“Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, Jalan Salib mengajarkan kita tentang pengorbanan, penderitaan, dan harapan. Pada akhirnya, setiap perjuangan akan bermuara pada kebangkitan,” ujarnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern, termasuk tekanan di era digital.

Menurutnya, harapan menjadi kunci utama agar manusia tetap mampu bertahan dan melangkah maju.

Lebih lanjut, Wali Kota menekankan pentingnya peran pemuda dalam kehidupan saat ini. Ia mengingatkan bahwa pemuda tidak hanya menjadi harapan masa depan, tetapi juga penentu arah masa kini.

“Pemuda harus berani memikul ‘salib’ masing-masing dalam kehidupan, baik sebagai mahasiswa, pelayan gereja, maupun dalam peran lainnya di tengah masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Klasis GMIT Kota Kupang, Pdt. Delviana K. Poych Snae, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa prosesi Jalan Salib memiliki makna teologis yang mendalam, khususnya sebagai sarana refleksi iman di tengah derasnya arus informasi saat ini.

BACA JUGA:  Ahmad Atang: Tekad Jokowi Besarkan PSI Tak Goyah Meski Diserang Fitnah

Dia menjelaskan bahwa melalui prosesi ini, umat tidak hanya membaca kisah sengsara Kristus, tetapi juga mengalaminya secara visual melalui dramatisasi di setiap etape. Hal ini menjadikan Jalan Salib sebagai bentuk “katekisasi visual” yang relevan bagi generasi masa kini.

“Di tengah dominasi media sosial, Jalan Salib menjadi ruang refleksi iman yang membantu umat memahami makna pengorbanan Kristus secara lebih kontekstual,” ungkapnya.

Selain itu, prosesi ini juga menjadi sarana kesaksian iman di ruang publik, mempererat persekutuan antarjemaat, serta mendorong transformasi hidup umat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Prosesi Jalan Salib Ke-X ini dilaksanakan dalam 10 etape yang melintasi sejumlah gereja GMIT di Kota Kupang. Rute dimulai dari Taman Nostalgia Kupang, kemudian melewati GMIT Kota Baru, GMIT Pniel Oebobo, GMIT Kefas Oetete, GMIT Koinonia Kupang, GMIT Syalom Kupang, GMIT Kemah Ibadat Airnona, GMIT Rehobot Bakunase, GMIT Hosana Batuplat, dan berakhir di GMIT Pohonitas Manulai II sebagai titik akhir perenungan.

Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat baru, memperkuat iman, serta mempererat persaudaraan di tengah masyarakat Kota Kupang, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai spiritual di era digital yang terus berkembang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.