Suarantt.id, So’e-Kepala BPDAS Benain Noelmina, Kludolfus Tuames, mengungkapkan bahwa upaya rehabilitasi hutan di kawasan Mutis Timau, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Program ini tidak hanya berdampak pada pemulihan lingkungan, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi masyarakat serta membuka peluang pengembangan pariwisata lokal.
Dalam kunjungannya bersama Kepala UPT KPH TTS, Semu Boru, ke lokasi kegiatan Rehabilitasi Hutan (RH) seluas 275 hektare, Dolfus mengakui bahwa program tersebut sempat menghadapi tantangan di tahap awal. Sebagian kelompok tani menolak dan meragukan program, bahkan muncul kekhawatiran akan kehilangan akses terhadap kawasan hutan.
“Di awal kegiatan, kami sempat berbenturan dengan sebagian anggota kelompok tani. Mereka belum percaya dan khawatir akan kehilangan akses terhadap lahan,” ujarnya.
Namun, melalui pendekatan persuasif yang dilakukan secara berkelanjutan oleh tim Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) TTS, kepercayaan masyarakat perlahan tumbuh. Kelompok tani yang sebelumnya menolak akhirnya berbalik mendukung dan terlibat aktif sebagai pelaksana kegiatan rehabilitasi.
Perubahan tersebut kini membuahkan hasil nyata. Kawasan yang sebelumnya berupa padang rumput dengan manfaat terbatas, kini telah berubah menjadi hutan yang hijau, subur, dan produktif. Selain menjadi sumber pangan, kawasan tersebut juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dari sisi ekologi, dampak positif juga mulai terlihat. Berdasarkan laporan petugas lapangan, belasan sumber mata air telah kembali hidup di area rehabilitasi. Dengan luas kawasan mencapai 275 hektare, jumlah sumber mata air diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan vegetasi.
Ke depan, pemerintah akan menurunkan tim untuk melakukan impact assessment guna mengukur dampak rehabilitasi hutan terhadap aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi model percontohan yang dapat diterapkan di wilayah lain di NTT.
“Hal baik ini perlu ditularkan kepada masyarakat luas, bahwa lahan yang sebelumnya kurang produktif bisa diubah menjadi kawasan yang lebih bermanfaat dengan kerja keras, komitmen, dan konsistensi,” jelas Dolfus.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, rombongan juga meninjau Danau Fatukoto yang kini semakin berkembang sebagai destinasi wisata lokal. Dukungan dari Bank NTT melalui penyediaan sarana dan prasarana turut mempercantik kawasan tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, direncanakan penanaman pohon durian di sekitar Danau Fatukoto guna mendukung ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata.
Dolfus menegaskan bahwa pengembangan pariwisata akan berjalan optimal jika didukung oleh ekonomi masyarakat yang kuat. Oleh karena itu, rehabilitasi hutan dinilai menjadi fondasi penting dalam pembangunan berkelanjutan di NTT.
“Mari terus memberi manfaat bagi kehidupan dengan menanam dan memelihara pohon, demi bumi, alam, dan masa depan yang lebih baik,” tutupnya. ***







