Stasi St. Petrus Manulai II Rayakan 25 Tahun Perjalanan Iman: Dari Teras Rumah Menuju Gereja yang Hidup

oleh -988 Dilihat
Uskup Agung Kupang Diterima Umat Stasi St. Petrus Manulai II. (Foto BN)

Suarantt.id, Kupang-Gereja Katolik Stasi St. Petrus Manulai II merayakan tonggak sejarah penting dengan memperingati 25 tahun berdirinya stasi tersebut pada Minggu (15/6/2025). Perayaan ini dirangkaikan dengan Misa Hari Raya Tritunggal Mahakudus serta acara temu pisah Co Pastor, dan dihadiri ribuan umat serta para tokoh masyarakat.

Misa syukur dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, Pr, yang dalam homilinya menggarisbawahi bahwa pertumbuhan dan keberhasilan stasi ini bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan karena kasih dan rahmat Allah Tritunggal Mahakudus.

“Hari ini kita bersyukur atas rahmat istimewa yang kita alami sebagai satu persekutuan umat beriman. Ini bukan semata-mata kekuatan dan kelebihan manusia, tetapi semuanya merupakan berkat dan rahmat dari Allah,” ungkap Mgr. Hironimus dalam khotbahnya.

Ia menambahkan, hakekat gereja adalah persekutuan yang dibentuk dari keberagaman, bukan keseragaman. “Allah memanggil kita dari latar belakang yang berbeda, namun menyatukan kita dalam cinta. Inilah gereja: persekutuan kasih yang bersumber dari Allah Tritunggal,” tegasnya.

Uskup juga mengajak umat untuk terus memelihara semangat kebersamaan dan memperkuat relasi antara gereja dan masyarakat. “Kehadiran para tokoh dan pemerintah hari ini menjadi indikator bahwa hubungan antara gereja dan masyarakat selama ini dibangun secara harmonis dan kolaboratif demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Perjalanan Penuh Iman dan Ketekunan

Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang turut hadir dalam perayaan ini mengapresiasi ketekunan dan semangat umat Stasi Manulai II yang dianggapnya sangat inspiratif.

“Membaca dan mendengar kisah awal berdirinya gereja ini seperti membuka album kenangan yang penuh pilu, tetapi juga penuh harapan. Ini adalah kisah iman dan ketekunan,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Kunjungi Samsat Alor, Gubernur Soroti Rendahnya Kepatuhan Pajak Kendaraan

Ia menceritakan bahwa Stasi ini bermula dari Kelompok Umat Basis (KUB) Santa Petra pada tahun 1997 dengan hanya 23 Kepala Keluarga. Kini, komunitas ini berkembang menjadi 11 KUB dan lebih dari 1.400 umat.

“Mulai dari misa di teras rumah, kapela darurat yang lapuk, hingga umat bergotong-royong mengangkut batu dan pasir—semua ini mencerminkan semangat gereja yang hidup,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah melihat gereja sebagai mitra moral dan sosial dalam membangun masyarakat.

Bersyukur, Bertumbuh, dan Menjadi Berkat

Ketua Panitia Perayaan, Vincent Mone, dalam sambutannya menegaskan bahwa momen peringatan ini adalah saat untuk meneguhkan komitmen pelayanan ke depan. Ia mengangkat tema besar perayaan: Bersyukur, Bertumbuh, dan Menjadi Berkat.

“Tema ini bukan hanya slogan, tapi refleksi dari perjalanan panjang kita. Syukur yang sejati harus diwujudkan dalam pelayanan yang aktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Vincent menekankan bahwa pertumbuhan gereja tidak cukup diukur dari fisik bangunan atau jumlah umat, tetapi dari kualitas iman dan kasih di antara umat. “Menjadi berkat bukan hanya memberi, tetapi menjadi pribadi yang membawa damai dan peduli pada yang tersisih,” tambahnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan mendukung perayaan ini, serta menutup sambutannya dengan pantun yang menyentuh:
“Dulu misa di teras rumah, kini di gereja yang megah dan ramah.
Umat dulu hanya segelintir, kini jadi komunitas yang tak lagi terusir.”

Perayaan dilanjutkan dengan resepsi sederhana yang meriah dan penuh sukacita. Penampilan paduan suara, tarian daerah, serta kidung pujian dari kelompok kategorial turut menyemarakkan acara syukur ini, menegaskan bahwa Gereja Stasi St. Petrus Manulai II adalah gereja yang benar-benar hidup dan membawa berkat bagi sekitarnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *