Suarantt.id, Kupang-Pawai Kupang Bertakbir Season 3 kembali menjadi panggung kebersamaan dan toleransi di Kota Kupang. Kegiatan yang diikuti ribuan peserta ini tidak hanya menjadi perayaan malam takbiran, tetapi juga simbol nyata harmoni lintas agama dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Wali Kota Kupang, Christian Widodo, menegaskan bahwa pawai takbiran bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah perjalanan batin yang sarat makna spiritual dan nilai kebersamaan. Hal tersebut disampaikannya saat menerima peserta pawai di Bundaran Patung Tirosa, Jumat (20/3/26) malam.
“Bagi saya, malam bertakbir ini bukan hanya perjalanan dari titik A ke titik B. Ini adalah perjalanan batin. Ini bukan hanya perayaan, tetapi ekspresi iman yang bergerak, mengisi ruang-ruang Kota Kupang dengan lantunan takbir yang indah,” ujarnya.
Menurutnya, takbir yang dikumandangkan tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas kebesaran Tuhan, tetapi juga pengingat untuk terus menumbuhkan rasa saling menghargai, mencintai, dan mengasihi di tengah kehidupan bermasyarakat yang majemuk.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur penting, di antaranya Ketua MUI Kota Kupang, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Kota Kupang, para pimpinan perangkat daerah, tokoh lintas agama, hingga masyarakat umum yang memadati lokasi acara.
Wali Kota juga memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan lintas agama dalam kegiatan tersebut. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah penampilan paduan suara dari Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi Kolhua yang membawakan lagu bernuansa Islami.
“Ini adalah lambang bahwa keberagaman di Kota Kupang bukan penghalang, tetapi kekuatan. Bukan jarak, melainkan jembatan yang menyatukan kita semua,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan kebanggaannya atas capaian Kota Kupang yang berhasil masuk dalam 10 besar Indeks Kota Toleran serta meraih penghargaan sebagai kota damai dan inklusif terbaik tingkat nasional.
Lebih lanjut, Christian Widodo menggambarkan harmoni sebagai keseimbangan dalam keberagaman. Ia mengibaratkan Kota Kupang seperti sebuah lagu dan lukisan, di mana perbedaan justru menciptakan keindahan.
“Harmoni itu bukan berarti sama, tetapi seimbang. Kita tidak bisa menyeragamkan semua orang, tetapi kita bisa hidup berdampingan dalam keseimbangan,” jelasnya.
Dia juga menyoroti praktik toleransi yang tumbuh di tengah masyarakat, seperti aktivitas berburu takjil di sekitar gereja tanpa mengganggu umat yang beribadah, hingga pembagian bingkisan Idul Fitri kepada gereja-gereja yang dilalui peserta pawai.
Sementara itu, Ketua PHBI Kota Kupang, Bustaman, menyampaikan bahwa tema “Kasih di Hari yang Fitri” menjadi pesan utama dalam pawai tahun ini. Tema tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa, tetapi juga momentum memperkuat kasih sayang, persaudaraan, dan semangat saling memaafkan.
Pawai Takbiran Kupang Bertakbir Season 3 diikuti sekitar 5.000 peserta dan dilepas secara resmi oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Sepanjang rute pawai, peserta juga membagikan bingkisan Idul Fitri sebagai simbol nyata kerukunan antarumat beragama di Kota Kupang.
Mengakhiri sambutannya, Wali Kota Kupang mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga harmoni dan kebersamaan, serta menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bagi umat Muslim.
“Kota Kupang adalah rumah bersama yang damai, inklusif, dan penuh kasih. Mari kita terus rawat kebersamaan ini,” pungkasnya. ***







